Sejatinya, saya adalah warga Bandung. Tentu saja saya adalah seorang bobotoh. Seorang supporter persib yang tidak termasuk kedalam klub-klub atau organisasi supporter yang terdaftar. Menjadi seorang bobotoh, murni karena kecintaan saya terhadap Persib.

Belum lama ini, tepatnya dua bulan. Saya bekerja di media massa khusus olahraga di ibu kota Jakarta dengan kondisi yang bisa dibilang ‘mencekam’. Dengan catatan saya sebagai seorang bobotoh, dimana rekan kerja saya adalah mayoritas anggota aktif the jakmania, yang notabene adalah ‘musuh abadi’ bobotoh.

Sebenarnya saya kurang setuju dengan istilah ‘musuh abadi’ bobotoh. Karena faktanya the jakmania mempunyai konflik hanya dengan salah satu organisasi bobotoh.

Sekedar cerita, apabila persib bertanding, saya tidak pernah absen menyaksikan pertandingan nya. Tentu saja diiringi dengan teriakan fanatisme walaupun hanya didepan televisi.

Tak ayal hal ini pun berdampak dilematis ketika saya hanya bisa menyaksikan Persib bertanding lewat layar kaca, dengan keadaan sedang bekerja di kantor. Otomatis rekan-rekan kerja yang juga the jak  pasti menonton televisi untuk mendapatkan berita tentang Persib.

Hati saya seolah terkurung, mulut seakan terkunci. Saya takut identitas saya sebagai bobotoh tidak dapat diiringi profesionalisme rekan kerja saya.

Tapi ternyata salah besar. Saya tidak bisa mengendalikan atau menipu hati sendiri. Teriakan dukungan dan omelan kekecewaan ketika Persib gagal memanfaatkan peluang, tak dapat saya sembunyikan. Namun, ketika saya melihat kanan kiri dengan wajah resah. Rekan-rekan kerja jakmania saya hanya tersenyum tulus.

“tenang aja bro, kita ga kaya yang media kebanyakan ceritain”, ucap salah satu rekan saya. Sontak saya bertanya mengapa mereka berucap sperti itu. Mereka pun menjelaskan bahwa pada dasarnya, the jakmania menginginkan perdamaian.

Mereka bercerita, beberapa kali usaha perdamaian Bandung-Jakarta ini, pernah dilakukan. Bahkan sampai melibatkan gubernur dan birokrat lain nya. Namun usaha nya tetap gagal. Perdamaian tak pernah tercapai.

Salah satu rekan saya menimpali “kalo di kite, ada yang berucap rasis terhadap klub bobotoh bandung, langsung kita tegur. Kalo perlu dijitak, dijitak dah. koordinator-koordinator di kami telah mendapatkan instruksi untuk menindak pelaku rasisme. Sesaat saya menyimpan respek terhadap jakmania, walaupun saya belum tahu kebenaran dari pernyataan teman saya tersebut.

Sungguh ironis, ketika ingat bagaimana saat saya menyaksikan Persib di stadion. Seruan bernada rasis dikomandoi beberapa orang yang berdiri diatas pagar pembatas stadion. Entah mereka koordinator atau bukan, saya tidak pernah tahu.

Mereka mengkomandoi massa untuk bernyanyi nada rasis untuk the jak. Sungguh hal yang jauh menuju perdamaian. Nada-nada kebencian dipupuk sebegitu hebat, bahkan sampai ke anak kecil yang tidak pernah tahu awal permusuhan ini.

Tak lama setelah tu, saya bertanya dengan spontan. Masihkah mungkin tercipta perdamaian antara kita. Mereka pun berujar bahwa sampai saat ini, mereka selalu membuka pintu perdamaian bagi siapapun.

Coba anda lihat catatan yang dituliskan salah satu pendiri jakmania yang dituliskan di akun facebooknya. Tanggapan ketika ditanya perdamaian adalah ‘bomat’, alias bodo amat. Bukan tanpa alasan istilah ‘bomat’ itu tersemat.

Pada intinya, jakmania lelah dengan usaha perdamaian yang tak kunjung tercapai. Lebih jelasnya, mau damai ayo, kalaupun tidak juga ya terserah.

Saya ingin memohon maaf sebelumnya. Tulisan saya ini tidak pernah berniat untuk menyanjung jakmania atau bobotoh itu sendiri. Ini hanya sekedar tulisan yang terdiri dari hasrat saya sebagai bobotoh, dan teman saya sebagai jakmania, yang menginginkan perdamaian itu tercipta.

Zaman telah berubah. Di era globalisasi ini, sudah seharusnya kita berfikir luas. Bukan berfikiran dan bertindak arogan dan anarkis.

Saya merindukan suasana stadion tanpa tulisan dan teriakan rasisme. Dan saya selalu berharap, tidak ada lagi pedagang baju bernada rasis yang memanfaatkan keuntungan dari permusuhan ini.

Pernah saya berfikir ingin menjadi orang yang bisa menjembatani perdamaian Bandung-jakarta ini. Walaupun sulit pada kenyataan nya. Tapi, bila memang ada niat dari bobotoh dan juga the jakmania untuk berdamai, maka hubungi saya. Saya siap berjuang untuk menjembatani dan membantu tercptanya perdamaian ini.

Tidak kah kalian rindu mendukung Persib dimana saja, bahkan di Jakarta?. saya merindukan hal itu. Saya merindukan perdamaian. Dan saya menginginkan seluruh elemen persepakbolaan kita, berkembang pesat. Dan itu dimulai dari kesadaran kita selaku supporter. Kalau bukan kita siapa lagi?

Demi Persib, untuk Persib, dan Indonesia.

Gery Hendra Saputra
Penulis adalah warga Maleer, Bandung
dan bekerja di Jakarta.

 

Pendapat yang dinyatakan dalam karya ini sepenuhnya merupakan pendapat pribadi penulis, tidak mencerminkan pendapat redaksi Simamaung.

 

 

Sumber : simamaung.com

Iklan