Ditulis oleh Abi

Banyak cara dilakukan Aremania untuk mendukung Singo Edan bertarung. Mulai datang ke stadion, memasang bendara di gang ataupun membangun sebuah monumen singa.

BILA melintas di perempatan Jalan Kresno, kawasan Polehan Kota Malang, kita bisa jadi bakal melihat satu pemandangan menarik. Bukan tempat wisata ataupun atraksi spektakuler yang tersaji di sana. Seekor singa raksasa tampak duduk manis menyapa para pengguna jalan yang lalu lalang. Raja rimba itu bahkan terlihat tersenyum kepada setiap orang yang melihatnya.

Tentu saja singa tadi bukan singa yang sedang lepas dari kandang atau migrasi dari hutan ke kota. Singa ‘ramah’ itu merupakan seni patung yang sengaja dibuat masyarakat Polehan di tepi perempatan jalan tersebut. Patung itu dibangun masyarakat sekitar seiring keberhasilan tim Singo Edan kebanggan mereka, Arema Indonesia, merengkuh gelar juara Liga Super musim lalu. Termasuk menyambut Indonesia Super League musim 2010-2011.

Tingginya 2,10 meter. Dibuat demikian untuk menandai tahun pembuatannya. Karya seni yang diklaim sebagai patung singa terbesar yang ada di Malang Raya itu mulai digarap pada 24 Juli 2010. Pengerjaannya memakan waktu sekitar tiga minggu dan dikerjakan sendiri oleh warga setempat. ‘’Setelah sebelumnya kami survei di tempat lain, kami bisa bilang bahwa ini patung singa terbesar yang ada di Malang,’’ ujar Arik, salah satu penggagas pembuatan patung ini.

Patung singa yang dicat warna coklat keemasan ini dibuat oleh Aremania Nahelop, Eko Soekarman. Seniman setempat yang sudah kenyang pengalaman di dunia seni rupa. Dalam proses pembuatannya, ia dibantu Aremania lainnya yang bergotong royong membangun monumen yang didanai secara swadaya itu.

‘’Dibantu Aremania dan warga disini (Jalan Kresno). Niat mereka baik. Tapi justru jadi repot karena banyak yang asal teplok semen dan bahan-bahan lain,’’ kenang Eko lantas tertawa.

‘Singa’ ciptaan Eko ini memang bisa dibilang berbeda dari patung-patung singa lain yang tersebar di berbagai kawasan di Malang Raya. Bila singa-singa lain berpose dengan tampilan garang sambil berdiri mencakar lawan atau sedang mengaum, singa yang satu ini justru ditampilkan dengan kesan bersahabat.
Usut punya usut, ada alasan khusus yang melatarbelakangi pemilihan karakter singa ramah tersebut. Eko menuturkan beberapa cerita menarik seputar hal ini. Salah satunya adalah bunga tidur yang didapatnya ketika patung singa tersebut akan dibuat kala itu.

Dalam tidurnya, Eko bermimpi melihat sosok perempuan menawan mengenakan sandang yang begitu mempesona. Seketika menoleh ke arah Eko, ternyata sosok itu berkepala singa. Meski berkepala singa, sosok itu mengembangkan senyum kepada Eko.

Dari situlah Eko merasa ada sisi spiritual yang harus direnungkannya lebih dahulu, sebelum memulai proses pembuatan patung yang penggarapannya juga melibatkan para tukang becak itu.

‘’Setelah mendapat mimpi itu, saya sempat berkonsultasi dengan salah seorang kawan yang saya tuakan. Beliau bilang bahwa mimpi itu ada maknanya dan berkaitan dengan rencana pembuatan patung yang saya ungkapkan,’’ urainya serius.

Dimulailah pengerjaan patung yang memiliki bola mata yang dibuat dari kuningan itu dengan dana seadanya. Arik dan Irwanto menjadi ujung tombak mencari dana serta dibantu beberapa warga setempat.

‘’Tidak ada sponsor. Kami bersyukur sekali, dari proses pengerjaan hingga hampir tuntas selalu saja ada dana. Banyak sekali orang yang secara sukarela membantu dalam hal materi,’’ tutur Arik menceritakan pengalamannya mengumpulkan dana untuk pembangunan patung yang menelan biaya sekitar Rp 12 juta itu.

Patung tersebut awalnya ingin diberi warna perunggu, layaknya patung-patung singa yang ada di kawasan Eropa . Namun ada saja kendala yang mengiringi. Seperti warna cat yang tidak bisa tercampur baik dengan bahan dasar. Maka digantilah warna patung menjadi coklat keemasan seperti sekarang. Hal ini justru mengundang banyak orang datang melihat langsung.

‘’Banyak sekali orang yang datang untuk sekedar berfoto mas. Kami disini ya malah senang,’’ ucap Jejek, salah seorang tukang becak yang biasa mangkal di perempatan tempat patung singa berada.
Lalu apa makna yang ada dari desain patung singa tersenyum ini? Menurut Eko, tema yang mereka angkat dalam karya seni ini adalah semangat salam satu jiwa yang dimiliki Aremania.

Meski bermental singa yang garang, warga setempat berusaha menyampaikan kesan welcome kepada semua orang. ‘’Singa itu menyambut siapapun yang melintas, tanpa pandang bulu,’’ ujarnya sembari tersenyum.

Seniman yang menggeluti seni rupa sejak masih remaja ini juga menyebut bahwa batu hitam yang menjadi pijakan sang singa berarti melambangkan kejayaan. Sedangkan singa terlihat mencengkram menandakan kukuhnya dia mempertahankan kejayaannya.

‘’Ini menjadi harapan agar Arema bisa terus mempertahankan gelar juara mereka,’’ imbuh Eko, yang mengaku bahwa dia dan warga sekitar juga bersedia menerima pesanan pembuatan patung serupa. (tommy yuda pamungkas).

Sumber : wearmania.net

Iklan