Catatan Perjalanan Arema Parahyangan “Tour ‘de Oslo 2010″
Dikirim oleh Marlitha Giofenni, Arema Parahyangan
Ketika Arema Indonesia memastikan diri melangkah di Final Piala Indonesia 2010, Arema Parahyangan yang mengadakan nobar tanggal 28 Juli 2010 di GOR Pasadena Regency Caringin Bandung langsung berniat mengadakan Tour ke Solo, tempat berlangsungnya pertandingan terakhir even tahunan tersebut digelar.

Besoknya, tersebar informasi rencana tour ke Solo kepada anggota. Hingga sehari sebelum keberangkatan, hanya sedikit yang berminat untuk turut hadir di Stadion Manahan. Tentunya bukan karena kurang loyalnya Aremania di Bandung, namun pertimbangan jarak dan waktu tempuh Bandung – Solo sehingga dikhawatirkan menganggu aktivitas keseharian nawak-nawak yang sebagian besar mempunyai tanggung jawab di tempat kerja. Apalagi final tersebut rencananya dilaksanakan malam hari.

Sempat terdengar kabar pembatalan keberangkatan Arema Parahyangan di acara bergengsi tersebut karena kurangnya minat anggota. Namun ada beberapa nawak-nawak yang tetap keukeuh ingin menyaksikan secara langsung bagaimana punggawa-punggawa Singo Edan berlaga sekaligus keinginan untuk menjadi duta Arema Parahyangan di tengah-tengah Aremania yang berkumpul dari penjuru kota-kota di Indonesia. Dengan beberapa koordinasi dan lobi disana-sini, akhirnya ayas, Sam Deddy, Sam Victor, Sam Dody, Sam Joe, dan Sam Nanang sepakat nekat berangkat.

Setelah berkoordinasi dengan gnaro-gnaro yang dituakan, kami akhirnya mendapat restu dari Ketua dan Pengurus-Pengurus Arema Parahyangan (ArPar) yang lain. Kami sepakat menyewa libom demi efisiensi waktu, walaupun dengan biaya yang cukup nayamul tapi kami optimis untuk berangkat.

Kami janjian berkumpul di rumah nawak ArPar di daerah Caringin pukul 19.00. Namun sampai pukul 23.00 kami belum berangkat juga. Berita buruknya, libom yang sedianya kami sewa ternyata mengalami kecelakaan dan belum mendapat ganti. Sehingga kami menumpang libom-nya Pak Yono (Wakil Ketua ArPar) bersama Pak Andik (Ketua ArPar) yang juga berniat berangkat ke Solo, sambil menunggu libom pengganti.

Di daerah Kiara Condong, rupanya kami sudah ditunggu selama setengah jam oleh Sam Khoirul yang memiliki bendera Aremania Bandung, kira-kira lebarnya 5 x 3 meter yang akan kami bawa serta ke Solo sebagai identitas. Kemudian kami mampir lagi ke rumah Sam Basuki di daerah Ujung Berung untuk mengambil ‘uang pesangon’ dari donator. Begitulah totalitas dan loyalitas keluarga besar Arema Parahyangan di Bandung, walaupun tidak bisa hadir langsung di Stadion, tapi nawak-nawak tersebut memiliki kepedulian bagi duta-duta ArPar yang pergi ke Solo.

Sampai di Cibiru, daerah paling timur Kota Bandung, libom dari rental datang bersama seorang sopir dari daerah Lembang. Pak Yono, Pak Andik, Sam Deddy, dan Sam Nanang berada di libom yang satu, sedangkan Ayas, Sam Joe, Sam Dody, Sam Victor dan Sopir berada di libom sewaan. Pembagian ini berdasarkan siapa saja yang bisa menyetir libom, sehingga dapat bergantian. Kami pun meninggalkan kota Bandung tepat tengah malam, menempuh jalur Selatan, menuju Solo.

Pukul 04.30 kami mampir di SPBU di daerah Cilacap. Pukul 09.00 kami sampai di daerah Yogyakarta, dengan acara ‘nyasar’ terlebih dahulu. Itulah akibat kalau Dora tidak dibawa touring, kami jadi tidak punya peta sebagai pedoman! J Kami mampir di sebuah rumah makan untuk mengisi energi dan menyempatkan untuk membersihkan diri. Ketika akan melanjutkan perjalanan, kami memasang atribut Arema di kap depan libom dan menggantungkan syal di kaca spion.

Pukul 11.30 kami sampai di daerah Solo, di sana kami mampir ke rumah kakaknya Pak Yono. Kami disambut dengan baik oleh tuan rumah dan dipersilahkan istirahat. Melihat tikar terhampar di ruang tamu dan beberapa bantal di atasnya membuat sam-sam tak kuat untuk tidak merebahkan diri. Akhirnya bagaikan ikan pindang berjajar, nawak-nawak pun dengan cepat berlayar di negeri kapuk J. Kami pun mendapat jamuan makan siang yang luar biasa mantap, sajian urap-urap, menu yang kami rindukan. Terima kasih untuk keluarga Kakaknya Pak Yono. Sebuah perjalanan yang menambah saudara.

Pukul 13.00 kami menuju Stadion Manahan yang ditempuh dalam waktu 15 menit dari kediaman Kakaknya Pak Yono tersebut. Tanpa perlu susah payah, akhirnya kami memasuki area Stadion. Sam Joe yang siang itu didaulat menjadi sopir tidak segera memarkir libom, kami justru berputar-putar di area stadion, diakui atau tidak kami ingin ‘memamerkan Plat D’. Kami ingin nawak-nawak mengetahui kehadiran Aremania dari Bandung. Di Bandung, ada Aremania yang eksis. Selanjutnya kami pun menenteng bendera identitas yang tidak ringan, untuk diabadikan bersama Patung Manahan yang menjadi icon Stadion kebanggaan Pasoepati tersebut.

Kemudian kami berkeliling stadion, membeli merchandise, dan mencari tiket. Untuk urusan tiket, kami terpaksa membeli tiket ekonomi dengan harga Rp 45.000,00. Jangan salahkan kami yang menjadi ladang subur bagi calo tiket yang tidak sedikit itu, karena kekhawatiran kehabisan tiket tentunya. Rupanya mafia calo tiket ini membuat suporter yang begitu loyal tak kuasa untuk mengatakan tidak! Berapapun harganya akan kami bayar juga, demi sebuah perjalanan yang tidak dekat dan demi totalitas terhadap Arema Indonesia. Rasanya ingin memberi umpatan kepada calo tiket tersebut, yang dengan begitu sadisnya merampok suporter loyal L.

Selanjutnya, kami mengobrol dengan beberapa Aremania yang kebetulan dikenal oleh Pak Andik, dan rupanya ada salah satu dedengkot Aremania Ngalam di antara mereka. Kepada Aremania tersebut kami menceritakan eksistensi Arema Parahyangan dan bagaimana hubungan kami dengan Bobotoh, khususnya Viking. Kepada Aremania tersebut ayas mempercayakan surat yang kami tujukan kepada Sam Yuli Sumpil, meminta dukungan perdamaian Aremania – Bobotoh. Semoga surat tersebut dapat sampai ke tangan Sam Yuli dan dapat terealisasi, demi terwujudnya slogan yang dahulu sempat dikoar-koarkan, yaitu No Racism! Semoga hal kecil yang kami lakukan dapat menjadi sebuah usaha ikhlas untuk ‘kemerdekaan’ berkespresi kami. Dan sebuah bukti bahwa kami tidak tinggal diam dan menerima begitu saja dengan kemelut antar suporter yang terjadi.

Pukul 16.30 kami memasuki stadion. Menonton laga eksebisi antara Polda Jateng vs Persis Solo, menjadi sebuah hiburan tersendiri sebelum laga sebenarnya. Nawak-nawak ArPar tak mau ketinggalan turut memasang bendera identitas Aremania Bandung di sentle ban sebelah selatan, tepat di depan suporter Persis Solo, Pasoepati, yang kebetulan menjadi tuan rumah. Sebelum kick off pukul 20.00, kami memulai pemanasan dengan yel-yel seperti biasa, dan menyanyikan dengan hikmat lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Seperti yang nawak-nawak ketahui, pertandingan berlangsung dengan cukup panas. Aremania yang biasanya selalu bersemangat menyerukan yel-yel dukungan, malam itu lebih banyak terdiam menyaksikan laga pembuktian siapa yang terbaik di ajang Piala Indonesia. Keputusan wasit (menurut Aremania) yang berpihak menimbulkan emosi Aremania menjadi sedikit ‘liar’. Muncullah kalimat rasis untuk wasit.

Kurangsigapnya pihak kepolisian yang membiarkan penonton tanpa tiket memasuki stadion sebelah timur secara paksa juga turut menambah kecewa kami. Bahkan saking banyaknya penonton, hingga meluber ke daerah sentle ban, yang seyogyanya steril dari penonton, membuat beberapa bendera Aremania terinjak-injak.

Jeda pertandingan selama satu jam yang terjadi, membuat Aremania yang memadati Stadion Manahan menjadi bertanya-tanya. Beberapa kali kami berkomunikasi dengan nawak-nawak ArPar yang sedang nobar untuk mengetahui tayangan di televisi, dan yang di Bandung pun ingin mengetahui kondisi kami. Sembari menunggu pertandingan dilanjutkan, kami pun beryel-yel “Kami Arema. Salam Satu Jiwa. di Indonesia, ‘kan s’lalu ada. S’lalu bersama, untuk kemenangan. Kami Arema.” berkali-kali dengan bervariasi gerakan. Satu hal yang mungkin tidak diketahui oleh nawak-nawak Aremania korwil TV adalah ketika jeda tersebut, berterbanglah beberapa balon entah hasil kreativitas siapa itu yang cukup suasana sedikit riang, karena balon tersebut menurut beberapa Aremania berasal dari alat kontrasepsi. Cukup membuat ayas tertawa geli, ada-ada saja.

Ketika Sriwijaya FC berhasil memecah skor menjadi 1 – 0, secara tiba-tiba kekhawatiran menyelimuti hati Aremania. Sayangnya ada pihak-pihak yang tidak dewasa, melempari suporter Sriwijaya ketika mereka beryel-yel merayakan keunggulan kedudukan tersebut. Aksi M. Ridhuan membobol pertahanan Hendro Kartiko membuat Aremania kembali ceria, itulah tim bermental juara, begitulah pendapat kami. Namun ketika skor akhir menjadi 2 – 1, sampai berakhirnya babak tambahan waktu, cukup membuat kami kecewa.

Ayas yang duduk di tribun timur paling depan, sempat hampir mendapatkan lemparan botol air mineral dari arah atas. Tak ayas pungkiri, itu ulah Aremania sendiri yang kurang bisa mengontrol diri. Aksi pembakaran banner pun juga terjadi, suatu tindakan anarkis! Ayas hanya bisa memeluk dua boneka singa berwarna biru milik Sam Victor dan Sam Joe yang sejak pertama ayas bawa. Ayas hanya diam, tercekat melihat kebrutalan nawak-nawak. Ayas mengerti bagaimana begitu kecewanya kami. Kecewa pada siapakah? Pada pemain yang tidak bisa bermain sportifkah? Pada kepemimpinan wasitkah? Pada polisi-polisi yang sedang berjagakah? Pada nawak suporter Aremania sendirikah? Atau pada keadaan?

Arema Parahyangan sengaja menyaksikan dari kejauhan prosesi penganugerahan gelar kepada jawara-jawara Piala Indonesia 2010. Kami menjadi yang terakhir turun dari tribun timur. Runner-up, patut disyukuri. Mungkin tidak ada yang tahu, bahwa pada pertandingan itu kami mengajak serta orang Bandung asli menonton langsung di Stadion Manahan. Ya, Pak Sopir kami cukup anteng duduk diantara Aremania, dan komentarnya bahwa permainan Arema Indonesia malam itu sesungguhnya bagus, membuat kami sedikit terhibur.

Tengah malam kami meninggalkan Stadion Manahan. Menuju sebuah warung untuk nakam, sambil terus mendiskusikan jalannya pertandingan yang cukup melelahkan malam itu. Selanjutnya kami berputar-putar di kota tersebut, mencari rute perjalanan. Jalur Pantura pilihan kami. Ayas menawarkan diri menjadi navigator, membantu Sam Joe yang kebagian piket menjadi sopir, membaca penunjuk jalan arah kota tujuan kami. Sedangkan Sam Deddy yang rupanya tidak tega membiarkan kami terjaga sendirian, ikut mengobrol. Secara tak sadar ayas pun terlelap…

Kami sampai di Kota Kembang, Bandung sekitar pukul 09.00. Jauh melenceng dari perkiraan kami sebelumnya. Rasa lelah dan kecewa yang begitu terasa membuat kami tak banyak bicara selama perjalanan pulang. Terpaksa kami pun membolos dari aktivitas masing-masing. Sebuah loyalitas yang harus dibayar mahal tentunya!

Berbagai pemberitaan mengenai pindahnya pemain dan pelatih pun turut membuat hati nawak-nawak menjadi gusar! Pemain dan pelatih bisa saja kontraknya berakahir, namun kami sebagai Aremania merasa telah dikontrak seumur hidup untuk menjadi pendukung Singo Edan, klub kebanggaan kami Arema Indonesia!!! Walau tak menjadi jawara sekalipun!

Tetap bangga menjadi Aremania dan selalu mendukung Arema Indonesia…

Bagi nawak-nawak Aremania, baik yang asli gnaro Ngalam maupun simpatisan Aremania dari berbagai daerah yang berdomisili di Bandung, yang ingin bergabung dengan Arema Parahyangan, harap menghubungi 085649927460, atau bergabung pada Grup Arema Parahyangan di Fb. Mari membangun silaturahmi bersama Aremania di Tanah Sunda!

Salam Satu Jiwa
(marlitha_giofenni@yahoo.co.id)

Sumber : tribunaremania.com

Iklan