Dikirim oleh Marlitha Giofenni, Arema Parahyangan
Tanggal 1 Agustus, ayas dan beberapa nawak2 Arema Parahyangan berkesempatan ke Solo menyaksikan Final Piala Indonesia. Kami menitipkan surat kepada salah satu Aremania yang kami percaya untuk menyampaikannya kepada Sam Yuli Sumpil selaku dirigen Aremania.
Semoga surat tersebut dapat dipublikasikan. Kami belum tahu apakah surat tersebut sampai dan dibaca oleh Sam Yuli apa belum, karena kami terkendala masalah komunikasi dengan Aremania yang kami titipi surat tersebut.

Bandung, 31 Juli 2010
Yth.
Dirigen Aremania
Sam Yuli Sumpil

Salam Satu Jiwa!

Apa kabar Sam? Semoga Sam Yuli selalu dalam keadaan sehat dan tetap bersemangat memandu nawak-nawak di Stadion. Sebelumnya, perkenalkan kami adalah Arema Parahyangan, paguyuban gnaro-gnaro Ngalam di Bandung, tentunya Aremania telah identik dengan jiwa kami.

Seperti Aremania perantauan di kota-kota lain, disini kami pun selalu membawa semangat Singo Edan. Walaupun Bandung tak seramah dulu bagi Aremania. Kita sama-sama tahu bahwa kemelut Aremania – Viking yang akhir-akhir ini terjadi adalah faktor yang membuat situasi menjadi kurang harmonis. Namun, sebelumnya tidak ada sejarah pertikaian kedua suporter biru tersebut. Gesekan yang pernah terjadi lebih ditimbulkan karena masing-masing dari kedua suporter berkubu dengan suporter lain (Bonek dan The Jakmania).

Kembali ke persoalan, salah satu bukti nyata kemelut Aremania – Viking dapat dilihat dari yel-yel rasisme di Stadion yang dinyanyikan oleh kedua suporter. Bagaimanapun juga di Stadion itulah bentuk representasi hubungan keduanya, sehingga terkesan bermusuhan. Padahal kenyataannya, tidak semua suporter setuju dengan hal itu, contohnya kami, Arema Parahyangan.

Saat ini, kami mulai solid dan serius menjadikan Arema Parahyangan sebagai bentuk eksistensi Aremania di Bandung, berbagai rencana telah kami susun. Salah satunya adalah mengadakan pendekatan dengan pihak Viking. Beberapa anggota kami telah bertemu dan berkomunikasi secara intens kepada pihak Viking, mereka pun telah mengetahui bahwa di Bandung ada Arema Parahyangan, yang merupakan bagian dari Aremania, mereka menyambut baik niat kami tersebut. Bagaimanapun juga kami adalah pendatang di tanah mereka, sehingga kami merasa perlu untuk kulo nuwun terlebih dahulu.

Keberanian kami menunjukkan jati diri sebagai Aremania di Bandung semakin mendapat angin segar dengan dukungan dari Bobotoh (Viking khususnya) yang cukup akrab dengan kami.

Kami bermaksud meminta dukungan dari Sam Yuli, selaku dirigen Aremania yang notabene telah menjadi leader Aremania di Stadion. Kami memohon dengan sangat untuk menghilangkan yel-yel rasis, khususnya yang ditujukan kepada Viking. Karena hal itu akan berdampak bagi hubungan Aremania – Viking, dan bagi kami Aremania yang secara nyata hidup berdampingan dengan Viking di Bandung. Kami merasa sungkan apabila di televisi terdengar rasisme ketika pertandingan kepada Viking, padahal dalam pertandingan tersebut Arema Indonesia tidak sedang melawan Persib Bandung. Kami sering merasa malu dan minta maaf kepada mereka.

Tidak semua Viking seperti Ayi Beutik yang mungkin telah terkontaminasi suporter lain. Masih ada Viking yang menghargai Aremania, kami sering bertukar pikiran, saling menyapa ala suporter ketika bertemu. Sesungguhnya hal seperti itu sangat menentramkan, daripada saling mengejek secara rasis, anarkis secara verbal.

Kami sadar, bahwa harga diri Aremania telah diinjak-injak melalui yel-yel Viking yang pernah dinyanyikan, kami juga merasa sedih. Namun terlepas dari kejadian-kejadian yang telah terjadi baik gesekan secara langsung maupun tidak langsung, kami berharap semua pihak dapat introspeksi diri menjadi suporter yang lebih santun. Karena masalah di lapangan dapat berimbas kepada kehidupan nyata.

Tidak jarang kami mendapat cacian yang kurang enak di dengar karena identitas kami sebagai Aremania (memakai atribut). Padahal dimanapun berada kami selalu membanggakan diri sebagai Kera Ngalam yang berjiwa Singo Edan. Apakah kami harus rela diejek dan dihina ketika menunjukkan eksistensi kami sebagai Aremania?

Tapi secara keseluruhan kami masih dapat hidup berdampingan dengan cukup nyaman bersama Bobotoh (Viking khususnya). Jangan sampai apa yang terjadi di Stadion, dalam hal ini segala bentuk rasisme terhadap suporter lain, berdampak bagi dulur-dulur Aremania di perantuan, di Bandung misalnya. Mohon kiranya Sam Yuli dapat mengerti hal ini. Terima kasih atas perhatiannya.

Arema tidak kemana-mana tapi dimana-mana!

Mengetahui,
Ketua Arema Parahyangan
Andik Sudarno

Aremanita Parahyangan
Marlitha Giofenni

Sumber : tribunaremania.com

Iklan