Dikirim oleh Syamsul Bahri, Aremania Utab
Membaca berita dan mendengar adanya razia kepada pedagang atribut AREMA, hati kecil saya langsung berteriak dan merasa sedih terhadap apa yang terjadi. Sudah sebegitu kecilkah kepedulian PT. Arema Indonesia hingga demi dana lantas mengabaikan nilai-nilai kehidupan. Sebelumnya saya beritahukan bahwa saya bukanlah pedagang ataupun pelaku bisnis dibidang atribut AREMA. Saya hanyalah seorang Aremania yang prihatin dengan keadaan yang terjadi saat ini.

Saya sangat memahami betul akan kebutuhan dana PT. Arema Indonesia. Dan harus menggali dana dari berbagai segi yang bisa menghasilkan uang. Tapi PT. AI seharusnya melakukan dengan cara-cara yang simpatik dan bermartabat.

Kalau berbicara masalah merchandise, menurut sejarahnya bahwa atribut Arema bukanlah muncul dari ide PT. Arema Indonesia sendiri, seperti boneka singa dan pernak-pernik atribut Arema adalah hasil kreativitas teman-teman AREMANIA dari manapun. Yang mana AREMANIA adalah insan-insan bola yang penuh dengan segala kreativitas.

Walaupun kini memang berbagai jenis atribut AREMA sdh dipatenkan oleh PT. AI dan PT. AI punya hak untuk mengadakan razia atau lebih halusnya penertiban tapi seharusnya dilakukan dengan cara-cara yang elegan. Setau saya baru satu tahun ini manajemen baru PT. AI menangani legalitas atribut AREMA dan begitu cepatnya bergerak mengadakan penertiban terhadap pedagang-pedagang tanpa didahului pendekatan yang lebih bersahabat dan sosialisai yang panjang, sehingga kesannya saya melihat adanya arogansi mengenai masalah ini dari manajemen PT. AI.

Saya mengutip dari Berita Jatim yaitu : “Mungkin sosialisasinya kurang ke pedagang. seharusnya, tidak langsung di razia. Diberi despensasisi dulu dengan tenggang waktu berapa hari. Kalau masih belum punya hangtag, baru disita,” katanya.

“Tidak sedikit pedagang yang tidak tahu soal harus ada hangtag itu. Dan lagi, saya berharap, yang disita bukan di pasar, tetapi pusat yang menjualnya. kasihan pedagang yang hanya mempunyai modal pas-pasan,” katanya.

Sementara itu, menurut Koordinator Merchandise PT AI Adi Sugiharto akibat banyaknya pedagang atribut Arema yang tak ada hangtagnya, PT Arema Indinesia (AI) mengalami kerugian senilai Rp 7 juta dari 3.500 kaus yang disita.

Dari wawancara diatas jelas bahwa kurang sekali sosialisasi terhadap semua kalangan baik Pedagang, Ditributor, dan terutama lagi Aremania.

Dari ulasan diatas yang saya ingin sampaikan adalah haruskah kita memperlakukan saudara kita sendiri seperti itu. Haruskah kita memperlakukan mereka seperti pencuri ??? Harusnya PT. AI ingat bahwa AREMA besar karena adanya dukungan AREMANIA. Bukan saya membela pedagang yang tidak berhang-tag tapi caranya, sekali lagi caranya. Harus disosialisasikan, adanya edukasi dan pendekatan yang lebih humanis.

Setelah beberapa waktu lalu ada kejadian yang memilukan menyangkut Sam Ikul, kini ada lagi berita yang mengenaskan. Haruskan hati nurani ini hilang …

Dimanakah jiwa kita yang satu …

Masih bisakah saya bangga dengan AREMA …

Hati dan Jiwaku menangis …

Salam Satu Jiwa

Sumber : tribunaremania.com

Iklan