Dikirim oleh Ovan Setiawan

Sore itu tampak beberapa anak kecil bermain sepakbola di tanah persawahan, dengan bertelanjang kaki bola plastik itu di giring zig zag ala lionel messi melewati pemain lawan kemudian mengoper bola kepada temannya cukup dua sentuhan untuk mengecoh pemain belakang lawan kemudian bola di tendang ke arah gawang dari batu bata yang di tumpuk dan terjadilah gol!

Itulah sedikit gambaran betapa sepakbola adalah olahraga yang begitu merakyat di seluruh penjuru dunia termasuk di Indonesia. Hampir tidak ada anak lelaki yang jika di tanya pernah bermain sepakbola menjawab tidak pernah mereka pasti menjawab dengan mantap “iya saya pernah!”.

Di samping mereka yang bermain sepak bola di kampung-kampung pembinaan sepak bola usia dini pun gencar di lakukan. Bukan baru-baru ini tetapi sudah bertahun-tahun yang lalu di Indonesia sudah banyak didirikan Sekolah Sepak Bola ( SSB ). Kompetisi usia dini pun sering di gulirkan baik di tingkat nasional maupun regional tentu saja dengan harapan jangka panjang yakni mencetak pemain sepakbola berkualitas dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Pembinaan pemain sepak bola usia dini juga di maksudkan untuk menciptakan regenerasi pemain sepakbola yang berlaga di kompetisi sepakbola nasional yang ada di Indonesia terutama di ajang Indonesia Super League ( ISL ) yang merupakan kasta sepak bola teringgi di Indonesia. Sayangnya hanya segelintir pelatih klub ISL yang berani menampilkan dengan maksimal pemain mudanya, alasan ketidak beranian ini kebanyakan pemain muda tersebut belum mempunyai jam terbang cukup.

Namun ada juga beberapa klub yang cukup berani memaksimalkan potensi pemain mudanya contohnya seperti Arema Indonesia berkat polesan Robert Rene Alberts mampu menjadi Juara ISL pada tahun 2010. Di klub asal kota Malang ini bercokol pemain muda seperti Dendy Santoso, Sunarto, dan Benny Wahyudi yang kebanyakan adalah pemain muda binaan Arema.

Robert Rene Alberts memberikan contoh pelatih sepakbola di Indonesia agar tidak ragu untuk memainkan pemain muda. Pelatih asal negeri kincir angin Belanda ini juga lihai membentuk kebersamaan tim sehingga tidak terjadi ketimpangan antara pemain senior dan pemain muda.

Memang sepakbola bukanlah olah raga yang instan. Di samping bakat yang menancap dalam diri juga di butuhkan kerja keras untuk mengasah kemampuan. Tontonan piala dunia di layar kaca pantas membuat kita iri terlebih ada wakil Asia yang turut serta dalam event paling bergengsi di dunia tersebut.

Sensus penduduk Indonesia tahun 2010 mencatatkan bahwa penduduk Indonesia mencapai 234,2 Juta jiwa dan menjadi negara ke empat setelah China, India, dan Amerika serikat. Dalam hal kepadatan penduduk mungkin kita boleh bangga karena penduduk kita lebih banyak dari pada German yang penduduknya kalah banyak di banding Indonesia.

Namun dari segi prestasi sepakbola ( lagi-lagi ) Indonesia masih kalah jauh di banding German yang bermain sangat gemilang di Piala Dunia Afrika. Sebegitu sulitkah mencari 11 pemain inti plus pemain cadangan dari 234,2 Juta penduduk Indonesia untuk tampil di piala dunia?.Tampaknya Indonesia memang benar-benar harus lebih serius dalam mengelola sepakbola dan menciptakan insan sepakbola yang tangguh dan mampu bersaing di tingkat internasional.

Semoga nanti dan nanti kita tidak hanya menjadi penonton yang duduk manis di depan layar kaca mendukung timnas dari negeri orang lain tetapi yang kita dukung adalah negeri kita dengan logo garuda di dada pemainnya dan lagu Indonesia raya berkumandang menggema ke seluruh penjuru dunia. Sepakbola adalah identitas bangsa rakyatnya ingin Indonesia di kenal dunia bukan karena sering ada bom teroris ataupun kasus ariel peterpan tapi karena prestasi sepakbola yang mampu berbicara di tingkat dunia.

sumber : tribunaremania.com

Iklan