Dikirim oleh Marlitha Giofenni, Arema Parahyangan
Kreatif dan atraktif. Itulah kata yang patut menggambarkan bagaimana Aremania beraksi di tribun stadion ketika mendukung tim Arema Indonesia. Tak perlu diragukan bagaimana dengan berbagai gerak dan lirik lagu yang dinyanyikan mampu membuat satu stadion bergemuruh, sebagai wujud loyalitas tanpa batas terhadap Singo Edan.

Sarana jejaring sosial pun tak luput dari bentuk kreatif tersebut, menyampaikan unek-unek dan pemikiran mereka tentang Aremania dan suporter-suporter lainnya. Sebagian di antara Aremania menunjukkan bahwa Aremania adalah suporter teladan, ironisnya di satu pihak Aremania yang lain mengisyaratkan bahwa dirinya tidak pantas menyandang julukan tersebut, melempar segala bentuk hujatan dan caci maki yang kurang sopan kepada suporter lain.

Mari kita bayangkan, seandainya kita dihujat seperti itu bagaimana perasaan kita? Dan ketika ada Aremania yang lain mengingatkan, malah mendapatkan komentar yang kurang enak juga. Ayas mengerti bahwa itu dilakukan untuk membela harga diri karena merasa terinjak-injak oleh hujatan suporter lain.

Bentuk balasan yang kreatif dan elegan adalah dengan suatu pembuktian yang lebih nyata dan berbeda. Perang argumen, bersilat lidah, saling menghujat, menuding yang lain salah, dan kita lah yang paling benar, semua suporter pun bisa kalau seperti itu. Hasilnya adalah makin memperkeruh suasana, memperuncing kemelut, lama-kelamaan akan menjadi bom waktu, sehingga bila sedikit saja terjadi gesekan antar suporter maka akan menimbulkan chaos yang cukup mengerikan. Ingat nawak-nawak, kita hanya memiliki satu nyawa, jadi jangan sok jagoan dan bisa berkoar-koar lewat dunia maya. Sekali lagi butuh bukti nyata bahwa kita memang pantas menjadi suporter teladan. Sudah bukan jamannya menjadi suporter ‘ndeso’ yang hanya bermulut besar, tapi marilah kita bersama menjadi suporter modern yang lebih menitikberatkan pada nilai-nilai kemanusiaan dan kreativitas.

Eksistensi Aremania dalam mendukung Arema Indonesia tidak hanya dalam pertandingan sepakbola saja. Alangkah kreatif apabila wujud dukungan tersebut direalisasikan dalam karya-karya yang keren. Contohnya, dibuat sebuah kompetisi kreativitas antar suporter, misalnya diadakan sebuah perlombaan yang diikuti oleh perwakilan korwil-korwil. Satu korwil mengirimkan sejumlah suporter untuk adu kreatif dalam beryel-yel. Dengan begitu banyaknya jumlah korwil, maka dibuat sistem wilayah. Unggulan tiap wilayah pada akhirnya akan bertemu di babak final. Juaranya berhak mendapat apresiasi yaitu karya mereka dipertunjukkan ketika Aremania mendukung Arema Indonesia saat bertanding atau ditampilkan pada saat peringatan Hari Ulang Tahun Arema Indonesia. Tentunya persyaratan utamanya adalah karya yang diciptakan tidak mengandung rasisme. Selain menggali potensi kreatif dari nawak-nawak di daerah, acara ini juga positif sebagai ajang silaturahmi antar korwil. Selain itu, bagi movie maker dapat dibuat ajang festival film indie atau film dokumenter yang mengangkat cerita Aremania. Banyak inspirasi yang dapat ditemui di sekitar kita. Aremania pun akan sibuk termotivasi dengan hal-hal yang lebih bernilai kreatif.

Bagi yang mempunyai ketertarikan di bidang musik, dapat diadakan semacam ajang pencarian bakat grup band. Setiap peserta diwajibkan menampilkan karya ciptaan mereka sendiri, tentunya lagu-lagu tersebut bertemakan Arema Indonesia, Aremania, Singo Edan, Malang, dan sepakbola Indonesia. Bagi peserta terbaik, berhak mendapat kesempatan membuat album kompilasi yang nantinya akan dipasarkan.

Untuk Aremania Licek dapat diadakan sebuah kegiatan sesuai dengan usia mereka, misalnya memecahkan rekor Muri menggambar dan mewarnai maskot Singo Edan. Untuk usia Sekolah Menengah, Lomba Karya Tulis adalah ajang yang tepat digelar, dengan mengangkat tema Sepakbola Indonesia, hal-hal semacam itu dapat menumbuhkan kecintaan terhadap klub sepakbola lokal dan pemahaman seperti apakah sepakbola yang damai sedini mungkin.

Mengingat jumlah Aremania yang sangat banyak dan sejalan dengan Sepakbola Industri yang akhir-akhir ini marak didengungkan, maka wajar apabila industri kreatif menjadi salah satu bentuk ekspresi Aremania. Salah satu contohnya adalah banyaknya desain kaos, syal, dan atribut Aremania. Bahkan bentuk desain khas Singo Edan pun dapat ditemui pada produk sprei, bad cover, tas, dan jam dinding. Tentunya dengan tidak lupa memberi handtag PT Arema Indonesia, sebagai royalti. Siapa tahu produk-produk tersebut dapat menjadi oleh-oleh atau cinderamata bagi wisatawan luar daerah ketika berkunjung ke Malang. Arema Indonesia pun semakin dikenal oleh orang luar Malang, sekalipun bukan pencinta sepakbola.

Selain itu gnaro-gnaro Ngalam di luar daerah yang dengan bangganya menjadikan ‘Arema’ sebagai merk usaha mereka, contohnya bakso, pun turut membumikan nama klub yang memperingati hari lahirnya setiap tanggal 11 Agustus itu. Dalam bidang konveksi, semoga ada pengusaha batik yang punya daya imajinasi untuk menjadikan logo Arema sebagai salah satu motif batik. Ayas yakin Aremania akan senang hati memakainya, sebagai kebanggaan Aremania dan Warga Negara Indonesia.

Bagi Aremania yang tinggal pada daerah-daerah perbatasan antara Ngalam dan kabupaten / kota lain, dapat secara bergotong royong membuat semacam monumen patung singa dengan ucapan “Selamat Datang di Kandang Singa” atau “Selamat Datang di Bumi Arema”. Monumen semacam itu akan menimbulkan kesan tersendiri bagi pendatang dan menumbuhkan semangat berkobar-kobar bagi Aremania.

Tapi sebenarnya tidakkah kita berpikir secara dewasa, bahwa ketika kita membalas tindakan mereka dengan cara yang sama, berarti pola pikir kita sama seperti mereka, belum dewasa. Ayas juga mengerti ada sebuah kejengkelan apabila kita dihina, namun tidak ada salahnya meredam hinaan pihak lain dengan cara yang lebih terhormat. Mana niatan kita untuk menjadi teladan?

Masih banyak hal yang dapat kita lakukan sebagai wujud cinta Arema Indonesia, selain membeli tiket ketika menonton di Stadion Kanjuruhan dan memberi produk berhandtag PT Arema Indonesia tentunya. Peran korwil-korwil selayaknya tidak sekadar hanya dianggap sebagai tempat mendapat jatah tiket saja, melainkan sudah saatnya peran korwil lebih ditingkatkan sebagai wadah untuk kreativitas anggotanya. Bahkan alangkah terpuji apabila korwil tersebut dapat mengepakkan sayap dalam bidang sosial kemasyarakatan, yang akan memberi manfaat lebih banyak bagi Gnaro Ngalam yang lain. Sehingga energi nawak-nawak tidak habis hanya untuk sekadar perang hujatan di dunia maya, yang ujung-ujungnya hanya membuat hati semakin dongkol saja. Aremania bukan hanya sekadar suporter sepakbola, namun telah menjelma menjadi motivasi dan inspirasi untuk terus berkarya, menunjukkan eksistensi dan jati diri sebagai Kera Ngalam yang berjiwa Singo Edan! Kita pasti bisa, nawak!

Masih ada hal-hal lain yang lebih ‘wah’ untuk menunjukkan bahwa kita memang kreatif! Dibutuhkan sebuah totalitas dan semangat untuk meningkatkan eksistensi Aremania, disinilah sebenarnya loyalitas tanpa batas kita diuji. Mampukah kita menjadi pioneer (lagi) untuk hal-hal baru yang belum pernah ada. Sejauh apakah kita membanggakan diri sebagai Aremania, kalau hanya cukup puas dengan apa yang kita dapatkan selama ini. Man jadda wajada, dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan.

Ayas bukanlah siapa-siapa, bukan orang besar yang punya kuasa besar pula, ayas hanya seorang Aremanita di Tanah Sunda yang tidak pernah bosan mengajak nawak-nawak untuk melangkah menjadi suporter yang lebih kreatif. Semoga ada pihak-pihak yang terinspirasi oleh pemikiran ayas ini.

Salam Satu Jiwa untuk suporter kreatif!

(Sembari tidak pernah berhenti berdoa untuk nasib Arema Indonesia ke depan)

NB : untuk nawak ayas Satria Sangga, Crew Arema Noise… “Kita boleh berbeda pendapat, tapi tetap Satu Jiwa Aremania!”

(marlitha_giofenni@yahoo.co.id)

sumber : tribunaremania.com

Iklan