Jelang Pertandingan AREMA INDONESIA vs PERSIB BANDUNG
Dikirim oleh Marlitha Giofenni, Arema Parahyangan
Selasa, 29 Juni 2010 telah dilakukan drawing 8 besar Piala Indonesia 2010 oleh PT Liga Indonesia, di kantornya, Kuningan, Jakarta. Acara yang dihadiri perwakilan klub yang akan bertanding di babak 8 besar tersebut memakai format Liga Champions, artinya juara masing-masing grup pada babak 16 besar tidak akan bertemu lagi di babak 8 besar. Begitu juga tim-tim yang sudah bertemu di babak penyisihan.

Pada hasil drawing tersebut Arema Indonesia bertemu dengan Persib Bandung, dimana pertandingan tersebut dapat dipastikan merupakan salah satu laga super big match. Menurut jadwal, Arema Indonesia akan mendapatkan kesempatan pertama menjamu Persib Bandung pada putaran pertama pada tanggal 18 Juli 2010. Sedangkan putaran kedua yang dijadwalkan berlangsung pada tanggal 22 Juli 2010 giliran Maung Bandung akan melakukan laga kandang menjamu Singo Edan.

Hasil drawing ini sangat menarik, karena pada momen pertandingan yang mempertemukan dua kans suporter besar dan dianggap sangat fanatik tersebut terdapat suatu pembuktian bagaimanakah hubungan antara Aremania dan Bobotoh (Viking) yang akhir-akhir ini kurang harmonis.

Mengutip pada tulisan yang marak muncul di internet yang menyatakan bahwa sebenarnya Aremania dan Viking tidak memiliki sejarah permusuhan, Aremania dan Viking adalah korban propaganda. Lalu mengapa Aremani turut memusuhi Viking? Maukah kita dianggap hanya sekadar ikut-ikutan, dan tidak punya pendirian. Sudah cukup permasalahan terjadi antara Aremania-Bonek dan Viking-The Jak. Walaupun masing-masing kedua kubu telah mengumumkan persaudaraan yang erat, namun apakah dengan seketika turut memusuhi yang lain, walaupun sebenarnya tidak mempunyai permasalahan apa-apa. Sadarlah bahwa taktik adu domba ada dibalik semua kemelut ini. Pengalaman sudah banyak, namun apakah kita mau belajar dan menjadi suporter dewasa, pada diri sendiri lah kita bertanya.

Dari beberapa discussion board di internet yang mengangkat topik kemelut Aremania – Viking, dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak jelas apa yang menyebabkan hubungan kedua suporter menjadi sedikit memanas akhir-akhir ini. Justru cukup banyak komentar kedua suporter yang terkesan baik-baik saja dan malah begitu bersahabat, dan saling menghargai, walaupun masing-masing memiliki ‘saudara’ yang notabene menjadi musuh yang lain. Sekali lagi mungkin kita patut membenarkan salah satu tulisan di internet yaitu “Aremania – Viking Korban Sebuah Propaganda”.

Pada tour Batavia sekitar 28 Mei – 1 Juni tahun ini, Aremania tidak dapat serta merta menuduh bahwa Viking yang melakukan aksi pelemparan batu pada kendaraan Aremania. Bisa saja itu hanyalah oknum yang menginginkan Aremania – Viking menjadi berseteru. Dan pada saat Viking tandang ke Malang, ada pihak yang merasa bahwa Aremania tidak menyambut baik kedatangan Viking tersebut, bisa saja Aremania itu juga bukan Aremania sejati, hanya (lagi-lagi) oknum yang tidak bertanggung jawab.

Menilik kedua klub sepakbola tersebut, terdapat banyak kesamaan. Kedua kota sama-sama terletak di dataran tinggi yang beriklim sejuk, semoga berdampak pada karakteristik suporternya yang tidak mudah tersulut provokasi menyesatkan. Keduanya sama-sama punya warna identitas, yaitu biru. Kedua komunitas suporter pun kebanyakan berasal dari kalangan bawah (grass root), sama-sama menjadi pemain kedua belas ketika tim kesayangannya sedang berlaga. Peran kedua suporter telah berkembang tak hanya sebagai objek pelengkap namun telah menjadi bagian dari prestasi dan keberhasilan masing-masing klub. Selain itu, kedua klub sama-sama mengusung sepakbola industri, penjualan merchandise, pembuatan album pun masing-masing mereka lakoni untuk menambah pendapatan klub. Dan tentunya loyalitas suporter dalam mendukung klubnya di kandang maupun laga tandang sekalipun tak perlu diragukan.

Kalau Aremania punya dirigen yaitu Sam Yuli dan Sam Kepet, maka Viking pun punya panglima yang sama dihormatinya oleh suporter yaitu Ayi Beutik dan Heru Joko. Kalau Aremania bergerak melalui korwil, maka Viking pun mengaktualisasikan diri dengan pembentukan distrik. Kalau Aremania berkata “Arema sampe’ ketam!”, maka Viking pun berkata “Persib nepi ka maot”, yang maknanya adalah loyalitas terhadap klub sampai akhir hayat.

Memang anggota kedua suporter berasal dari pribadi-pribadi yang mempunyai pandangan dan pola pikir yang berbeda-beda, ada yang mudah terprovokasi oleh pihak lain, ada pula yang dapat berpikir secara bijak. Semoga kita adalah yang kedua tersebut. Tidak usah kita ikut-ikutan suporter lain yang menggaungkan permusuhan. Perdamaian harus terus diusahakan, tak pernah ada kata bosan maupun menyerah!

Hendaknya Viking/Bobotoh menggunakan atribut mereka sendiri, bukan menggunakan atribut suporter klub lain, untuk menghindari ketidakjelasan identitas. Kita mengetahui bahwa dengan adanya persahabatan antara Viking dan Bonek, dapat dimungkinkan Viking/Bobotoh menggunakan atribut Bonek, yang mungkin saja dapat memancing emosi sebagian Aremania yang belum mampu berpikir secara dewasa. Kedua belah pihak pun harus saling menjaga perasaan suporter lain.

Banyak suporter merasa bahwa kesetiaannya pada klub yang didukungnya adalah dengan cara membela mati-matian, dan merasa tidak terima bahwa klub atau suporternya dihina dengan kata-kata yang tidak sopan, bahkan menjurus ke arah pelecehan. Suporter pun akan melakukan aksi balasan, dengan bentuk yang sama, atau malah lebih keras. Nah, kalau sudah begini kapan akan berdamai? Harus menunggu kiamatkah?

Mengapa sanggahan ejekan tersebut tidak kita lakukan dengan cara-cara yang lebih elegan, tak hanya sekadar bermanis kata, namun sebuah bukti nyata. Kita patut belajar kepada Sam Harie Pandiono, tentu nawak-nawak mengikuti beritanya, bahwa seseorang yang benar-benar fanatik terhadap Arema Indonesia ini rela mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk hal-hal yang mungkin hanya dapat dipahami oleh suporter sepakbola lain yang sama fanatiknya, yaitu memesan bendera Arema Indonesia dengan ukuran super besar dengan berat lebih dari 10 kg, untuk dibentangkan dalam waktu yang cukup singkat di Afrika Selatan pada gelaran Piala Dunia 2010. Dan membawa bendera Arema Indonesia kemana-mana sebagai identitas agar khalayak internasional tahu bahwa Arema Indonesia itu ada. Betapa membanggakannya hal tersebut bagi Aremania di tanah air. Belum tentu ada suporter Indonesia seperti beliau. Serta rencana-rencananya kedepan untuk mengaktifkan Arema korwil Eropa yang dianggap ‘melempem’.

Melihat eksistensi beliau, tidakkah nawak-nawak malu kalau masih saja mengurusi kemelut dengan suporter lain yang tak kunjung usai. Apakah tidak ada cara lain untuk eksis selain dengan anarkis dan rasis?

Tak sepatutnya nyanyian rasis diperdengarkan lagi, ataupun ejekan kepada suporter lain ketika mengenakan atribut suporternya di kota kita sendiri, selain itu tidak dewasa apabila status Facebook kita menyatakan bahwa suporter lain adalah badut, ataupun perang argumen di dunia maya. Suporter yang hanya ikut-ikutan dan tak punya pendirian tersebut mungkin hanya berani kalau bersama-sama, alias ‘keroyokan’, coba ditantang satu lawan satu, belum tentu mereka mau. Ya, sebuah solidaritas yang kurang benar jalannya.

Ada salah satu komentar dalam Grup ‘Aremania dan Viking Satu Warna’ di Facebook yang berbunyi “kayaknya kita butuh dijajah Belanda dan Jepang, biar kompak satu Indonesia”, membaca komentar tersebut kita seharusnya merasa miris, bahwa persatuan yang telah diusahakan secara susah payah hingga mengorbankan nyawa yang tidak sedikit itu rupanya sudah tidak punya arti lagi bagi suporter sepakbola Indonesia. Padahal kita yakin benar bahwa kita adalah seorang WNI. Sebagian besar mereka justru lebih senang membalas tindakan suporter lain yang tidak dewasa dengan tindakan yang sama tidak dewasanya pula.

Padahal sadarkah kita dimana kita berada? Kita masih mengibarkan dan menghormati bendera yang sama, Merah Putih. Kita masih memiliki ideologi yang sama, Pancasila. Kita masih di tanah air yang sama, Indonesia. Sadarlah itu wahai suporter Indonesia! Perbedaan itu memang indah, namun akan jauh lebih indah bila dilengkapi dengan perdamaian. Loyalitas terhadap klub yang membabi buta tidak ada manfaatnya, hanya akan menambah citra buruk sepakbola tanah air saja. Bukan saatnya kita menonton kericuhan antar suporter, tapi sepakbola yang ‘fair play’ dan berkualitaslah yang menjadi tujuan kita datang ke stadion.

Semoga pertengahan Juli nanti, pemain dan ofisial klub Persib Bandung, beserta Viking/Bobotoh dapat merasakan sambutan hangat Aremania dan publik Malang Raya akan kedatangan mereka. Aremania harus memulainya terlebih dahulu, karena apa yang akan terjadi pada tanggal 18 Juli 2010 tersebut menjadi acuan pada pertandingan selanjutnya yang berlangsung empat hari kemudian di Bandung. Sambutan baik dari Viking/Bobotoh Bandung pun tentu sangat diharapkan pada laga selanjutnya. Mengingat pada dasarnya Aremania-Viking tidak punya masalah apa-apa. Sungguh sesuatu yang sangat kita harapkan.

Arema Parahyangan menghimbau kepada publik bola Malang Raya untuk menyambut baik kedatangan rekan-rekan Viking. Sesuatu hal yang sangat menyenangkan apabila adegan penyambutan Viking oleh Aremania pada Film Romeo Juliet dapat berlangsung secara nyata menjelang 18 Juli 2010. Kalau sambutan Aremania terhadap Viking baik, maka tak perlu khawatir bagi Aremania untuk tour tandang ke Bandung. Sekali lagi, laga tersebut merupakan sebuah pembuktian kedua suporter biru, apakah masih pantas memiliki jargon “One Soul, One Blue”.

Arema Parahyangan, yang memiliki ikatan emosi dengan kedua kota, yaitu Malang dan Bandung merasa bahwa pertandingan Arema Indonesia vs Persib Bandung adalah salah satu pertandingan terpenting tahun ini. Semoga kami dapat mengadakan acara nonton bareng, karena tidak semua Aremania di Bandung dapat mendukung langsung di Malang. Dan alangkah mengandung ‘mbois’ apabila pada acara nobar tersebut, kami dapat mengundang perwakilan Viking untuk duduk bersama, menikmati pertandingan melalui layar kaca, dengan sedikit cemilan ala kadarnya, sumbangan buah dari nawak-nawak Caringin, sambil bersorak sorai mendukung tim kesayangan masing-masing, dan sedikit umpatan khas suporter kala jagoan masing-masing gagal mempertahankan bola. Alangkah mesranya seandainya dapat terjadi…

Buktikan bahwa Malang adalah kota yang mempunyai suporter dewasa dan patut dijadikan teladan (bukan badut)!

“Satukan jiwa satukan rasa. Damai di hati kita bersaudara. Damai, damai saudaraku. Jabat erat penuh kasih sayang. Untuk apa terus bertengkar. Pertemuan ini adalah kabar.” (Kabar Damai by D’Kross ft Anto Baret)

Jabat erat, kabeh dulur!

Salam Satu Jiwa dari Arema Parahyangan

(marlitha_giofenni@yahoo.co.id Aremanita tak pernah berhenti menunjukkan aksi, masih punya nyali sekalipun telah mendapat intimidasi!)

sumber : tribunaremania.com

Iklan