Suporter Sejati yang Tersesat, Ayo Pulang…
Dikirim oleh Marlitha Giofenni (Arema Parahyangan)
Ayas memang belum pernah terlibat cinta seperti Rangga dan Desi dalam kisah Romeo-Juliet karya Andibachtiar Yusuf yang mengangakat cinta antar suporter yang saling berseberangan. Namun ayas bisa membayangkan bagaimana penderitaan mereka ketika cinta, yang merupakan karunia dari Tuhan, terhalangi oleh rasa permusuhan. Kita dapat belajar dari film yang dicekal penayangannya di Bandung tersebut, bahwa betapapun kita sangat setia terhadap sesuatu yang kita yakini, namun ketika sesuatu tersebut mulai tidak masuk akal, hasilnya bukanlah kebahagiaan, justru timbul kerugian yang seharusnya bisa dihindarkan. Tewasnya Rangga, tentu menjadi sebuah luka yang dalam bagi Desi…

“Itu ‘kan hanya cerita film!”. Ya, memang benar tapi tentunya si pembuat film terinspirasi dari peristiwa yang hadir di sekitar kita. Lagi-lagi topik kemelut antar suporter pun mengusik kedamaian dan ketentraman hati ayas. Sehingga ayas ingin berbagi pemikiran dengan nawak-nawak.

Sejak bergulirnya Liga Sepakbola Indonesia secara profesional sekitar tahun 1980-an, dukungan suporter terhadap klub-klub daerahnya pun semakin meningkat. Dengan julukan masing-masing, suporter mempunyai ikatan emosional yang kuat dengan klub yang didukungnya, membuat suporter pun semakin fanatik. Bersamaan dengan hadirnya kelompok pendukung turut memunculkan konflik antar suporter tersebut.

Tentu tidak sedikit peristiwa kekerasan selama berlangsungnya pesta sepakbola paling bergengsi di Indonesia ini. Upaya berbagai pihak untuk memecahkan persoalan tersebut dapat diketegorikan dalam jangka pendek saja, bukan pemecahan masalah jangka panjang. Belum adanya riset serius di Indonesia mengenai hal ini pun turut menjadi alasan sulitnya mencari pemecahan masalah ini. Mungkin penyebabnya adalah urusan bola ini kurang mendapat perhatian dari orang-orang ‘besar’ yang menganggap bahwa hal ini tidak lebih penting dari percaturan politik di tanah air.

Pada sebuah literatur yang berjudul “Analisis Perilaku Kekerasan Penonton Sepakbola”, terdapat indikasi bahwa semakin rendah tingkat pendidikan maka tingkat keterlibatan dalam tindak kekerasan di stadion sepakbola pun semakin meninggi. Selain itu semakin tua usia seseorang, maka mempunyai kecenderungan untuk tidak melibatkan diri dalam tindak keributan. Strata ekonomi pun turut menyumbangkan faktor keterlibatan dalam kericuhan.

Motif atau alasan penonton melakukan tindakan kekerasan antara lain: melindungi teman atau tim kesayangannya, tindakan balas dendam, mengintimidasi lawan, kecewa terhadap kepemimpinan wasit, perilaku pemain lawan, harga diri, dan memperoleh status. Penyebabnya antara lain konsumsi alkohol atau jenis narkoba yang berlebihan, harapan yang tinggi akan kemenangan atas tim saingan, tindakan permusuhan yang berlangsung lama, perilaku pemain, wasit, dan ofisial, tingkat pendidikan, skor pertandingan, kehadiran pihak keamanan, pemberitaan media massa yang kadang menjadi inspirasi untuk berbuat anarkis.

Tentu setiap pribadi merasa bahwa klub yang didukung dan komunitas suporternya adalah yang terbaik. Tak peduli seberapa besar prestasi yang ditorehkan. Hal ini didasarkan atas semangat kedaerahan yang masih begitu kental dalam kultur budaya masyarakat Indonesia. Sesuatu yang wajar. Namun, menjadi tidak logis apabila semangat tersebut menjadi alasan untuk bermusuhan, apalagi dengan suporter lain yang sebenarnya masih satu bangsa.

Tak terhitung berapa kali gesekan antar suporter terjadi. Dari sekadar nyanyian rasis, segala bentuk cacian terhadap suporter lain, sampai kekerasan fisik yang tidak selayaknya terjadi. Yang lebih parah gesekan antar suporter terbawa sampai di luar stadion, bahkan ketika tidak ada pertandingan sekali pun. Hal ini telah menjadi dendam pribadi alih-alih sebuah dukungan total dan kesetiaan terhadap klub.

Sepak bola damai bukan berarti sepak bola banci kok! Yang banci justru ketika kita mudah tersulut emosi oleh provokator-provokator tak bermoral, yang akan tertawa terbahak melihat kita masuk dalam perangkap permainan mereka, menjadi brutal. Korban yang telah meninggal memang tidak dapat dihidupkan kembali, luka yang ditorehkan akan tetap meninggalkan bekas, memori tentu tidak dapat dihapus begitu saja. Tapi akankah kita bahagia, kalau generasi berikutnya pun seperti kita?

Mana implementasi pelajaran PPKn sewaktu SD dulu? Kita punya semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’, mana buktinya? Mana nurani kita yang sebenarnya tidak dapat menerima segala bentuk kekerasan terjadi?

Kalaupun faktor sejarah membuat kita masih menyimpan dendam kesumat. Lantas bagaimana dengan Belanda dan Jepang? Tentu kita tidak lupa bahwa tanah air kita pernah dijajah kedua negara tersebut, tapi ayas yakin banyak diantara kita yang mendukung Negara Tulip dan Negara Matahari Terbit itu pada even World Cup 2010 di Afrika Selatan. Artinya, toh waktu telah menyembuhkan luka bangsa ini. Lalu, perlu waktu berapa lamakah untuk merasakan perdamaian antara suporter di Indonesia yang saling bertikai? Seabadkah? Dan ketika perdamaian itu terwujud, tentu kita sudah berbaur menjadi tanah dan dikorek-korek cacing!

Apakah kita harus menjadi tua terlebih dahulu, baru bisa berpikir bijak? Dan kemudian menyesal melihat anak cucu kita mengikuti tabiat kita sekarang, anarkis dan brutal! Banggakah kita bila disamakan dengan hooligan Inggris yang sering menimbulkan kekacauan dalam pertandingan sepak bola internasional, dimana menyebabkan kematian penonton Italia (The Times, 30 Mei 1985; dalam Haley dan Johston, 1995:1). Sebuah tindakan kaum yang primitif dan belum mengenal peradaban!

Atau haruskah ayas terlibat ‘perang fisik’ terlebih dengan suporter lain agar merasa begitu satu dengan nawak-nawak yang menganggap bahwa perseteruan adalah hal yang biasa? Sungguh mengenaskan!

Fakta sejarah memang bukan untuk dilupakan, sepatutnya dijadikan sebagai pelajaran berharga. Bukan saatnya pula mencari kambing hitam, karena semua pihak akan merasa bahwa posisinya adalah yang paling benar. Padahal manusia bukanlah malaikat yang tanpa salah dan khilaf. Adu argumentasi tak jadi soal, tapi akan mubadzir kalau tidak ada tindakan nyata! Tentu semua suporter ingin menjadi yang terbaik, mari mulai dari diri sendiri, saat ini…

Secara pribadi, ayas memang baru satu kali nonton di Stadion Kanjuruhan (launching Tim Arema Indonesia ISL 2009/2010), satu kali nonton di Gajayana (derby Malang, Persema vs AREMA INDONESIA), dan satu kali nonton laga tandang (tour Batavia). Koleksi atribut ayas pun hanya 2 soak, 1 kemeja, 1 jaket, 1 syal, 1 Bendera, 4 pin, 1 Gantungan Boneka Singa mini, dan 2 stiker. Mungkin tidak seberapa dibandingkan nawak-nawak yang sudah bertahun-tahun menjadi fans fanatik AREMA. Dan ayas pun baru kemarin bergabung dan aktif dalam komunitas Arema Parahyangan. Walaupun memang sebenarnya sejak kecil ayas suka dengan AREMA dan Aremania. Tapi semua itu tidak membuat ayas minder atau rendah diri untuk mengajak nawak-nawak semua untuk melangkah menjadi suporter yang cinta damai…

Ayo, jadilah suporter yang dewasa! Atau haruskah kisah Rangga – Desi terjadi pada diri kita? Semoga saja tidak… Untuk suporter sejati yang jiwanya masih disesatkan ego permusuhan dan loyalitas yang menjerumuskan, mari pulang menuju perdamaian…

Setitik ungkapan hati ini, semoga menjadi embun penyegar di tengah kering kerontangnya padang perdamaian…

(marlitha_giofenni@yahoo.co.id)

sumber : tribunaremania.com

Iklan