Ditulis oleh Rindang Candra, Blitar
Keberhasilan Arema Indonesia menjadi Kampiun Liga Super Indonesia edisi 2009/2010 memang terasa sangat membanggakan sekali bagi publik bola Malang Raya maupun pecinta Arema Indonesia sejagad raya.

Arema Indonesia: Juara ISL 2009/10 yang ironisnya kini mengalami krisis finansial

Seperti yang diketahui banyak pihak, dengan persiapan yang sangat mepet, kondisi keuangan yang minim, akhirnya prestasi tertinggi bisa dicapai. Bahkan prestasi tersebut mematahkan prediksi banyak pihak atau bahkan jauh di dalam lubuk hati terdalam para Aremania dan Aremanita, bahwa jangankan juara, mampu bertahan untuk terus mengarungi kompetisi pun termasuk prestasi tersendiri.

Namun semua prediksi dan hitung hitungan di atas kertas tersebut langsung buyar seiring berjalannya waktu. Arema Indonesia yang lahir begitu instan -menjadi sebuah tim dengan persiapan sangat singkat- langsung berubah menjadi sesosok monster yang sungguh ditakuti lawan. Kemenangan demi kemenangan baik kandang maupun tandang seakan sudah menjadi hal yang jamak bagi kita Aremania dan Aremanita.

Kemenangan yang membuat setiap lawan selalu mempunyai motivasi lebih untuk mengalahkan skuad terbaik Arema Indonesia. Kemenangan yang selalu menjadikan omongan bahwa ada sesuatu yang terjadi antara Arema Indonesia dan PSSI. Tapi hanya permainan di atas lapangan yang bisa menunjukkan bahwa kemenangan Arema Indonesia memang pantas untuk didapatkan. Permainan yang sungguh cantik nan menawan untuk menjadikan sebuah pertandingan Arema Indonesia selalu menarik untuk ditonton.

Terlepas dari segala prestasi yang sungguh diluar dugaan -walaupun merupakan harapan Arema Indonesia serta Aremania dan Aremanita- merupakan sebuah ironi ketika problem mendasar kembali mendera tim kebanggaan kita ini. Masalah keuangan yang berimbas kepada terlambatnya pembayaran gaji, pembayaran pajak, pembayaran mess pemain dan lain sebagainya.

Problem yang seharusnya sudah bisa diantisipasi oleh jajaran manajemen jauh hari sebelumnya. Problem yang bisa membuyarkan konsentrasi pemain dan pelatih karena bingung mengenai masa depannya di Arema Indonesia. Problem yang bisa membuyarkan euforia publik bola Malang raya dan sejagad raya pecinta Arema Indonesia karena sudah memenangkan kompetisi tertinggi di tanah air.

Problem yang bahkan juga mengancam eksistensi Arema Indonesia di kancah sepak bola Indonesia dan bahkan dengan status juara, terancam pula keikutsertaan tahun depan di Liga Champion Asia.

Atau bahkan problem yang bisa membuat tim Arema Indonesia masuk kedalam rekor terbaru di MURI bahwa Arema Indonesia dengan segala kelebihannya menjadi tim pertama yang juara Liga Super Indonesia tapi akhirnya bubar karena tidak mempunyai dana yang cukup untuk mengarungi musim kompetisi berikutnya.

Aremania, aset terbesar Arema Indonesia yang justru dibuat kecewa dengan kepastian masa depan tim pujaannya

Permasalah tersebut sangat complicated dan sangat membutuhkan energi yang besar dari pihak pihak yang terkait. Ketiadaan sponshorship yang mampu memberikan fresh money atau fasilitas support ke tim, memang bisa menjadi sumber permasalahan seperti diatas tadi. Tapi sebenarnya ketiadaan fresh money hanyalah sebuah hasil dan bukan merupakan penyebab utama sumber permasalahan.

Fresh money akan bisa didapatkan setelah mendapatkan sponsor. Sponsor akan bisa (dengan mudah) didapatkan dengan adanya prestasi. Prestasi akan didapatkan dengan adanya tim yang solid dari jajaran pemain, pelatih maupun manajemen. Ini berarti prestasi, fresh money dan kesolidan sebuah tim merupakan suatu mata rantai yang tidak bisa dipisahkan.

Salah besar kalau menyalahkan jajaran pemain dan pelatih, karena mereka sudah terbukti mampu memberikan prestasi. Dan terlalu naïf kalau kita selalu menyalahkan manajemen Arema Indonesia, karena tidak bisa menyokong the winning team yang kita punyai. Ingat, bukankah the winning team yang ada saat ini juga merupakan hasil dari kerja keras manajemen PT. Arema Indonesia tahun lalu.

Saat ini yang kita perlukan bukanlah mencari tahu siapakah yang bersalah dan paling bertanggung jawab dengan kondisi permasalahan keuangan yang sedang mendera tim kita. Tapi kita harus berfikir, kita harus menyumbangkan pikiran kita agar tim Arema Indonesia tetap bisa eksis dan mampu mengangkat derajat dunia sepak bola di Malang Raya khususnya.

Kembali lagi ke masalah fresh money yang harus didapatkan agar bisa menjadi motor penggerak tim Arema Indonesia. Arema Indonesia sudah punya tim yang solid, Arema Indonesia sudah punya prestasi yang luar biasa, Arema Indonesia sudah punya suporter yang super fanatik, super kreatif dan semoga tetap menjadi suporter yang super beretika. Hal apalagi yang kurang untuk menggaet sponsor?

Kita harus belajar banyak kepada tim Persib Bandung, dengan prestasi yang bisa dibilang sama dengan Arema Indonesia, mereka bisa mendapatkan sponsor yang luar biasa banyaknya. Atau kita coba belajar dari tim luar negeri bagaimana mereka memperlakukan sponsor sehingga banyak sponsor yang loyal.

Selama kita belajar ke arah yang lebih baik kenapa tidak? Hilangkan gengsi karena kita harus belajar atau bahkan meniru dari tim lain yang lebih baik dari kita. Selama mind set di jajaran manajemen selalu fokus kepada “Tim Arema Indonesia adalah tim yang mandiri bebas dari dana pemerintah” itu akan tetap bisa didapatkan.

Butuh kepastian masa depan: Pelatih Arema Robert Alberts dan pemain-pemain Arema Indonesia saat latihan perdana Arema usai libur akhir musim 2009/10

Ada beberapa bagian yang menurut pengamatan saya perlu adanya peningkatan didalam tubuh PT Arema Indonesia.

Penetrasi yang dilakukan oleh tim bisnis harus lebih menggigit lagi untuk menggaet calon sponsor. Sepertinya take and give antara PT. Arema Indonesia dengan sponsor perlu dikaji ulang, sehingga akan timbul loyalitas dari sponsor. Selain itu bukankah PT. Arema Indonesia sudah punya modal prestasi, dan tahun depan akan berlaga di level Asia. Seharusnya hal ini lah bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi calon investor di tim Arema Indonesia. Kita bisa jadikan sebagai tolok ukur dari banyaknya sponsor yang antri untuk mengisi a-board setiap Arema Indonesia bertanding di Malang.

Harusnya tidak terlalu sulit mencari sponsor dengan reputasi dan prestasi Arema Indonesia selama ini. Apabila berpikir jangka panjang, pendapatan fresh money dari penjualan saham PT Arema Indonesia diperkirakan akan sangat besar. Tapi kembali lagi ke hal pokok, sudahkah hal-hal mendasar (loyalitas dan kredibilitas manajemen, sistem administrasi di dalam PT Arema Indonesia) berjalan sebagaimana mestinya? Investor pasti akan ragu untuk membeli saham PT Arema Indonesia dikarenakan belum kondusifnya kondisi internal PT Arema Indonesia sendiri.

Dalam tim ini perlu adanya orang orang yang memang super kreatif dalam hal negoisasi, dalam hal pemasaran dan tentunya cinta dengan Arema Indonesia. Sehingga tidak akan kesulitan dalam hal pemasaran dan dalam hal menggaet sponsor.

Website Arema, belum menjadi jawaban atas pertanyaan Aremania dan masih jauh dari harapan Aremania dan Aremanita

Divisi media PT Arema Indonesia mempunyai peranan yang sangat vital bagi berjalannya tim Arema Indonesia sendiri. Sekarang Arema Indonesia sudah punya website sendiri. Bukankah itu bisa dimaksimalkan sebagai ajang promosi dan menggaet sponsor. Apalagi internet sudah bisa diakses dari mana saja dan kapan saja.

Namun sepertinya utilisasi sektor ini masih setengah-setengah. Pada banyak media muncul berita simpang siur mengenai kondisi tim Arema Indonesia, baik itu masalah masa depan pemain, kondisi keuangan Arema Indonesia, rencana perombakan struktur manajemen sampai hal hal yang positif mengenai pemberitaan prestasi, terbentuknya korwil baru dan aktifitas Aremania dan Aremanita.

Sebagai official website seharusnya website Arema Indonesia wajib hukumnya meluruskan segala informasi yang kurang tepat yang ada di luar, menjelaskan kondisi internal tim dan lain sebagainya. Yang terjadi sekarang justru sebaliknya. Website tersebut justru hanya menjadi sekedar hiasan. Aneh rasanya kalau melihat website tersebut justru berisi berita-berita yang tidak ada sangkut pautnya dengan Arema Indonesia sedangkan di media lain banyak memberitakan kondisi tim Arema Indonesia sendiri.

Kita berharap mendapat pencerahan langsung dari sumbernya mengenai benar tidaknya informasi yang simpang siur di masyarakat dengan melihat ke official website Arema Indonesia, ternyata malah disuguhi prediksi Piala Dunia dan disuguhi hal-hal yang seharusnya bukan menjadi content media tersebut. Jadi perlu adanya skala prioritas dalam pemuatan berita di website resmi tim Arema sendiri.

Jangan sampai terjadi (dan aktualnya sekarang) berita di website resmi masih kalah up to date bila dibandingkan dengan media lainnya. Kita masih perlu banyak belajar mengenai hal ini kepada tim sepakbola yang sudah maju. Jangan merasa bangga ketika hanya karena dibilang Arema Indonesia sudah memiliki website resmi, tetapi isinya masih jauh dari apa yang seharusnya diharapkan.

Dari segala permasalahan yang ada, muncul sebuah pertanyaan “Seriuskah PT Arema Indonesia?”. Ini bisa diartikan benarkah manajemen serius dalam mengurus tim ini? Seriuskah mereka berkeinginan untuk memajukan prestasi Arema Indonesia? Seriuskah mereka untuk mendapatkan sponsor demi berjalannya roda tim Arema Indonesia? Dan masih banyak pertanyaan serius yang bisa kita sampaikan.

Tapi pada intinya, Aremania dan Aremanita berharap, siapapun pengelola PT Arema Indonesia baik itu manajemen yang sekarang, maupun manajemen yang baru (apabila jadi dilakukan perombakan) mampu menjalankan tugasnya dengan profesional, dengan hati nurani, dan dengan semangat yang luar biasa demi kemajuan Arema Indonesia kita tercinta.

Dengan kepengurusan yang profesional, sebuah tim akan menjadi jauh lebih solid. Dan dengan solidnya sebuah tim, prestasi pasti dengan mudah dicapai. Dengan dicapainya prestasi, segala sesuatu yang positif akan datang dengan sendirinya.

“Satukan Tekadmu, Kobarkan Semangatmu, Aremania Slalu Mendukungmu,”

Iklan