Aremania Parahyangan: Di Bandung, Kami Junjung Tinggi Singo Edan
Dikirim oleh Marlitha Giofenni, Arema Parahyangan
HTML clipboardBandung. Mendengar nama ibu kota Profinsi Jawa Barat tersebut, turut melintaskan berbagai hal di benak kita. Bandung dengan Gedung Sate-nya, jajaran distro di Jalan Trunojoyo, beragam jajanan dan wisata kuliner, tempat nongkrong anak muda di Jalan Dago, keindahan Tangkuban Parahu yang luar biasa, dan berbagai hal lain yang identik dengan kota kembang tersebut.

Di kota yang ditempuh 17 jam menggunakan Kereta Malabar inilah tempat mengadu nasib bagi sejumlah gnaro dan kera Ngalam. Sebagian mencari ilmu, sebagian yang lain mencari sesuap nasi. Sebuah pilihan sulit bagi kami untuk pergi meninggalkan kampung halaman dan kota kelahiran kami, Malang. Namun, desakan untuk menyambung hidup, mendapatkan pengalaman, dan penghidupan yang lebih baik lah yang membulatkan tekat kami untuk hijrah ke Tanah Sunda. Bandung, adalah tempat rejeki kami telah disiapkan oleh Yang Maha Kuasa. Kami mengejarnya, walaupun berat rasanya meninggalkan berjuta kenangan bersama keluarga, teman, kerabat, tetangga, dan segala hal di Malang. Namun itulah hidup, sebuah perjuangan.

Mujur bagi kami untuk menemukan orang-orang yang berasal dari Ngalam di Bandung, walaupun lokasi kami di Bandung tersebar di berbagai daerah dan kesibukan kami pun berbeda. Sebagai sesama perantauan, keakraban kami timbul begitu cepat, solidaritas pun tak perlu diragukan. Kami yang semula tidak saling mengenal di Ngalam, begitu cepat merasa yakin bahwa kami telah menemukan saudara, teman senasib sepenanggungan. Terlebih lagi disatukan oleh kecintaan terhadap klub kebanggaan kami, AREMA INDONESIA. Semangat Singo Edan pun turut kami bawa serta dalam perantauan.

Berikut cerita kebersamaan kami tanggal 20 Juni 2010…

Sebelumnya telah disebarkan undangan melalui (lagi-lagi) Facebook oleh Sam Kendar pada Grup AREMANIA BANDUNG mengenai rencana futsal. Hari Minggu, pukul 13.45 ayas sampai di Skipper Futsal Kiaracondong dengan memakai soak AREMANIA PARAHYANGAN. Satu per satu nawak-nawak pun datang, kebanyakan memakai atribut AREMA juga. Rencana awal nawak-nawak tersebut futsal sejak pukul 14.00 – 16.00, namun dengan sedikit kendala teknis di lapangan (bertepatan dengan final kompetisi futsal yang diselanggarakan produsen oli terkenal), akhirnya nawak-nawak baru bisa futsal sekitar pukul 14.30.

Beberapa wajah baru hadir di hari itu, kebetulan mereka mengetahui komunitas kami dari Facebook dan artikel kiriman ayas yang dimuat oleh redaksi ongisnade.net. Sama seperti ayas dahulu, mereka sebelumnya juga sibuk mencari tahu keberadaan Aremania di Bandung, karena kecanggihan teknologi lah silaturahmi dapat tersambung antara orang-orang Ngalam di Bandung. Terdapat orang yang bukan kera Ngalam diantara komunitas kami, salah satunya Aditya Rahman yang lahir di Samarinda, besar di Bontang, dan sekarang menimba ilmu di Bandung. Minatnya menjadi bagian dari Aremania ditularkan oleh sang Ayah yang asli Malang. Lain lagi dengan Amin dan Pinot (begitu mereka memperkenalkan diri), mereka adalah orang Klaten yang ngefans dengan AREMA INDONESIA, secara otomatis mereka ingin pula menjadi bagian dari Aremania.

Terhitung lebih dari 25 nawak-nawak yang hadir di sore itu. Secara bergantian mereka menggunakan lapangan futsal yang disewa berdasarkan iuran bersama. Sembari menunggu giliran, beberapa diantara mereka saling ngobrol ‘ngalor-ngidul’, menanyakan pengalaman hidup di Malang, kesibukan dan domisili di Bandung, lama di Bandung, tentang siapa yang akan mensposori AREMA INDONESIA musim ini, pada intinya topik obrolan berkutat tentang Malang, AREMA INDONESIA, dan eksistensi di Bandung. Lagi-lagi ayas menjadi Aremanita satu-satunya sore itu!

Pukul 16.30 acara futsal selesai. Ayas, Sam Dhedhet, Sam Kendar, dan Sam Aris menuju rumah Om Heri di belakang Pasar Caringin. Perlu nawak-nawak ketahui bahwa banyak gnaro Ngalam yang berdagang di Pasar Induk Caringin, mereka secara tidak langsung membangun komunitas Aremania disitu. Sebelumnya juga telah disebar undangan (kali ini lewat sms) mengenai pertemuan Arema Parahyangan jam 18.00 di daerah Cibolerang Bandung. Berhubung kami belum itreng dimana lokasinya, akhirnya kami sepakat berkumpul terlebih dahulu di rumah Om Heri (yang biasanya digunakan sebagai base camp), kemudian bersama-sama menuju lokasi.

Sekitar 5 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor dari rumah Om Heri, kami datang ke sebuah rumah di daerah Cibolerang. Acara yang ternyata dimulai pukul 20.00 (molor 2 jam) itu dihadiri gnaro Ngalam dengan beragam profesi, sebagai wujud keseriusan membentuk kepengurusan Arema Parahyangan. Menurut beberapa sumber yang ayas baca, sebenarnya Aremania tidaklah teroganisir, namun mempunyai seseorang yang ‘dituakan’ untuk menjadi koordinator korwil tersebut. Namun, malam itu kami sepakat membentuk kepengurusan (yang teroganisir) untuk mempermudah tercapainya tujuan bersama.

Selain sebagai wadah silaturahmi gnaro-gnaro Ngalam di Bandung dan sekitarnya, komunitas ini diharapkan dapat bergerak ke bidang sosial dan peka terhadap lingkungan sekitar, karena kami hidup dan tinggal di Bandung, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Usaha tersebut untuk menepis anggapan miring mengenai Aremania itu anarkis (dampak kemelut antar supporter). Selain itu, kami pun sepakat memberi nama AREMA PARAHYANGAN (bukan AREMANIA PARAHYANGAN), alasannya adalah pemilihan kata AREMA yang cenderung global dibandingkan AREMANIA yang identik dengan supporter bola. Bukannya kami ingin meninggalkan kesan supporter yang selama ini kami banggakan, namun agar kami lebih leluasa untuk berkecimpung di berbagai bidang (tidak hanya supporter dan sepak bola). Dan ‘Parahyangan’, menggambarkan cakupan komunitas kami diharapkan tidak hanya kawasan Bandung saja, melainkan Jawa Barat secara keseluruhan.

Terdapat berbagai masukan demi eksistensi AREMA PARAHYANGAN, salah satunya adalah mendaftarkan organisasi kami ke pihak notaris, agar sah di mata hukum, dan tidak dianggap ‘liar’. Betapa seriusnya kami membangun citra baik Aremania di Jawa Barat. Pemilihan pengurus pun berlangsung dengan musyawarah kekeluargaan. Pengurus tidak hanya didominasi oleh satu generasi saja, golongan tua dan muda membaur menjadi satu, terbagi dalam tugas-tugas yang akan diemban kedepannya. Namun sayang, ayas tidak sampai selesai mengikuti acara tersebut, ayas harus ngalup ke Kota Cimahi (perjalanan 30 menit) karena sudah terlalu larut, untung ada Sam Dhedhet yang sungguh baik hati, mau memberi tumpangan sampai depan kost J.

Begitulah cerita kami hari itu, sebuah usaha untuk tetap menjunjung tinggi Singo Edan di daerah Maung Bandung. Sebuah angin segar telah berhembus. Ada optimisme dan semangat bahwa kami akan eksis. Semoga benar-benar menjadi kenyataan berbagai harapan kami tersebut. Semata-mata dengan niat keikhlasan membangun silaturahmi yang lebih solid dan memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi lingkungan sekitar.

Kami tidak berada di Ngalam, namun embel-embel gnaro Ngalam akan terus kami emban dimanapun berada. Hal yang sama mungkin juga dirasakan oleh nawak-nawak Aremania (gnaro dan kera Ngalam) yang ada di Sumatera, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Papua, di belahan bumi manapun. Tunjukkanlah bahwa ‘Aremania tidak kemana-mana, tapi dimana-mana’ adalah benar adanya! Sebarkan virus perdamaian dan semangat persaudaraan. Tidak hanya sebatas Aremania saja, melainkan seluruh supporter Indonesia. Rangkullah mereka, walaupun tim yang mereka dukung bukanlah AREMA INDONESIA. Buktikan, bahwa kita adalah supporter dewasa dan pioneer supporter di Indonesia, terutama dalam hal positif.

Selalu ada rindu untuk Ngalam. Dan keinginan, suatu saat bisa ngalup ke Ngalam. Ada banyak hal yang patut dibanggakan di Ngalam. Ngalam, dengan Stadion Kanjuruhan yang berdiri kokoh sebagi saksi ketangguhan AREMA INDONESIA, jajaran toko-toko merchandise AREMANIA yang mudah ditemui, oskab Ngalam yang terkenal kane lop, café ongisnade yang semakin ciamik sebagai tempat nongkrong Aremania, suasana wisata Batu yang tiada tara, dan kehebatan supporter dan gnaro Ngalam yang luar biasa dalam memberi dukungan terhadap Singo Edan. Tidak akan pernah ditemui di kota lain, termasuk Bandung.

Penuh cinta untuk Aremaniania dan suporter Indonesia…
(fb marlitha_giofenni@yahoo.co.id)

Iklan