Dikirim oleh Marlitha Giofenni, Aremania Parahyangan
Sepak bola merupakan olahraga paling populer di planet Bumi, sangat diminati oleh berbagai kalangan. Mudah menemukan anak-anak bermain sepak bola di sore hari, pertandingan tarkam pada momen peringatan 17 Agustus-an, atau even sepak bola yang diadakan oleh instansi tertentu. Selain itu banyak negara-negara yang menjadikan sepak bola sebagai acara tahunan, yang sering di sebut liga. Dan di tahun ini even World Cup di Afrika Selatan menjadi acara yang paling ditunggu-tunggu oleh penikmat dan pencinta sepak bola di seluruh belahan dunia.



Di Indonesia tak mau ketinggalan, sejak 1994 dimulai dengan Ligina dimana PSSI (sebagai organisasi sepak bola nasional) mendorong sepak bola Indonesia menjadi lebih profesional, kemudian dengan mengalami berbagai perubahan format pertandingan, hingga sekarang (tahun kedua) ISL telah sukses digelar, merupakan bukti semakin majunya sepak bola tanah air.

Hampir setiap daerah memiliki klub sepak bola kebanggaan yang berlaga pada level tertentu (sesuai dengan prestasi dan anggaran yang dimiliki). Menurut artikel Cak Faris, omong kosong apabila sebuah klub sepak bola mampu bertahan tanpa dukungan suporter yang ada dibelakangnya. Kita tentu mengangguk setuju dengan pernyataan tersebut. Arema Indonesia yang sukses merengguk kemenangan pada ISL musim 2009/2010 ini, salah satu faktornya tentu tidak lepas karena totalitas dukungan Aremania, suporter fanatiknya. Hal ini semakin dibuktikan bahwa Arema Indonesia yang notebene adalah klub non-APBD mampu bertengger pada singasana teratas level sepak bola tertinggi di tanah air, mampu mengatasi krisis anggaran yang sempat melanda salah satunya karena keikhlasan Aremania yang rela membayar mahal tiket pertandingan di Stadion Kanjuruhan (termahal di Indonesia).

Isu emansipasi wanita yang gencar dikampanyekan pada jaman globalisasi ini, juga berdampak pada sepak bola. Sepak bola tidak lagi menjadi monopoli laki-laki. Tidak sedikit kaum Hawa yang juga suka, bahkan fanatik terhadap sepak bola. Sekarang sudah menjadi hal lumrah bagi perempuan untuk turut berdiskusi dan pergi ke stadion untuk menonton pertandingan klub favoritnya secara langsung. Menurut Laporan Studi Lapangan yang dilakukan John Psilopatis, dengan semakin dewasanya suporter sepak bola (yang didominasi laki-laki), membuat semakin mudahnya menemukan suporter perempuan yang berani hadir di stadion.

Aremanita, The Jack Angle, Bonita, dan Srikandi adalah bukti pengakuan terhadap keberadaan suporter perempuan. Kehadiran Aremanita (julukan bagi suporter perempuan Aremania) menjadi sebuah warna tersendiri. Aremanita turut menghapuskan persepsi miring masyarakat yang konservatif, yaitu menganggap bahwa perempuan yang gemar sepak bola adalah perempuan yang ‘nakal’ dan sekadar ikut-ikutan. Stereotip negatif tersebut, seharusnya dibuang jauh-jauh. Mendukung Arema adalah hak siapa saja, tak terkecuali bagi perempuan sekalipun.

Selayaknya kemunculan suporter perempuan dalam sepak bola turut didukung oleh suporter laki-laki. Banyak kisah suporter perempuan yang mendapat tindakan tidak menyenangkan dan mengarah pada tindak pelecehan. Hal ini patut disesalkan, karena tindakan yang tidak terupuji tersebut turut menghambat proses terciptanya sepak bola yang kondusif, maju, dan dewasa.

Aremanita adalah bagian dari Aremania, yang mempunyai visi untuk mendukung Singo Edan. Sudah saatnya bagi Aremanita untuk menunjukkan aksinya yang lebih nyata, sebagai barometer suporter perempuan pada kancah sepak bola tanah air. Rencana memecahkan rekor Muri jumlah penonton perempuan terbanyak pada pertandingan derby Malang (Persema vs Arema Indonesia) tanggal 9 Maret 2010 lalu, sepatutnya dapat dilaksanakan suatu saat kelak, dengan persiapan yang matang oleh Panpel Pertandingan, serta kontribusi nyata dari Aremanita hal tersebut adalah realistis!

Alangkah baiknya apabila Aremanita-lah pihak yang mengingatkan Aremania apabila timbul indikasi untuk brutal dan kisruh, Aremanita-lah yang mampu membuat ‘adem’ suasana (dalam konteks positif) yang mulai memanas kala terjadi singgungan dengan suporter lain. Karena pada dasarnya jiwa perempuan lebih peka daripada laki-laki (kodratnya yang diciptakan sebagai ibu), sehingga lebih halus dan antipati terhadap segala bentuk anarkis.

Aremanita hadir di stadion tujuan utamanya adalah mendukung Singo Edan (walaupun tidak dipungkiri ada alasan untuk merefreshkan mata dengan melihat punggawa-punggawa Arema Indonesia yang nayamul cakep, namun julukan Aremanita tersebut sebaiknya tidak hanya disandang pada saat Arema Indonesia bertanding saja, lebih dari itu alangkah membanggakan apabila Aremanita juga turut mengangkat nama klub dan suporter dengan beragam kreativitas yang dimiliki. Contohnya dengan kegiatan-kegiatan sosial kemanusiaan… atau dengan sekadar menulis artikel seperti ini.

Ayo Aremanita, tunjukkan aksimu!
Catatan Aremanita (Aremania Parahyangan), yang jiwa Aremania-nya semakin menggebu justru ketika berada di perantauan (marlitha_giofenni@yahoo.co.id)

from : http://tribunaremania.com

Iklan