Antara Eksistensi dan Kemelut Antar Supporter
Dikirim oleh Marlitha Giofenni, Aremania Parahyangan
Ayas masih ingat kali pertama bertemu dengan komunitas Aremania yang ada di Bandung, tanggal 16 Mei 2010 di tempat futsal Soccer Cop Kiaracondong Bandung. Itupun setelah berselancar di dunia maya, melalui jejaring sosial Facebook dimana status ayas beberapa kali menanyakan keberadaan basis supporter Singo Edan di Bandung. Sam Deddy ‘Singa Urban’ lah yang peduli dengan pertanyaan ayas tersebut dan memberi informasi jadwal pertemuan Aremania di Bandung dengan acara futsalnya.

Dengan sedikit kenekatan dan keyakinan, ayas berangkat sendiri mencari tempat futsal tersebut. Rupanya tidak mudah, ayas ketinggalan KRD (kereta yang melayani jalur Padalarang-Cicalengka), beberapa kali bertanya kepada orang di jalan, sampai naik turun angkot secara tidak jelas. Akhirnya ayas menemukan beberapa nawak-nawak beratribut Aremania dan Singo Edan sedang nongkrong di pinggir jalan. Tanpa canggung ayas bergabung dengan mereka (walaupun pada waktu itu ayas adalah AREMANITA satu-satunya), dan sambutannya luar biasa positif.

Begitulah awal perkenalan ayas dengan mereka. Selain futsal, kami juga nonton pertandingan terakhir AREMA INDONESIA ISL musim ini di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan Jakarta. Kami juga nonton bareng pertandingan AREMA INDONESIA vs All Stars, dengan pelengkap nakam oskab gratis (sumbangan Aremania juragan oskab di Bandung). Selain itu, tanggal 12 Juni 2010 kami berkumpul dengan Paguyuban Arema, komunitas orang-orang Malang yang tinggal di Bandung. Begitulah, cara kami berusaha eksis di Kota Bandung dan sekitarnya.

Walaupun baru sebulan, tapi ayas sudah menganggap mereka layaknya keluarga sendiri. Perasaan senasib berada di perantauan membuat kami gampang akrab, apalagi sesama Aremania, berasal dari daerah yang sama. Ketika menonton pertandingan AREMA INDONESIA vs PERSIJA di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan Jakarta, 30 Mei 2010, kami kompak mengenakan soak warna biru bergambar kepala singa dan Gedung Sate, serta bertuliskan AREMANIA PARAHYANGAN. Ya, menjadi sebuah cita-cita kami bersama untuk membentuk korwil secara teroganisir, dengan acara-acara yang bermanfaat, sebagai wujud keseriusan komunitas kami.

Namun, kenyataan tak seindah harapan. Jalan untuk merealisasikan hal tersebut tersandung oleh beberapa hal. Salah satunya adalah kota dimana basis kami berada sekarang adalah kota yang juga mempunyai supporter sepak bola yang tak kalah fanatik terhadap tim kebanggaannya, Persib Bandung, mereka adalah Bobotoh Persib atau Viking. Masalahnya, akhir-akhir ini hubungan Aremania dan Viking kurang kondusif. Entah karena provokasi dari pihak mana atau masalah apa, sehingga yang pada mulanya hubungan antara kedua supporter ini baik-baik saja, sekarang menjadi agak panas!

Kami memang mendapat restu dari sesepuh-sesepuh orang Malang yang ada di Bandung untuk membuat kepengurusan Aremania Parahyangan, tapi diharapkan keberadaan kami sekarang tidak terlalu dimunculkan ke permukaan. Ironis! Di satu sisi, tujuan kami ingin mendirikan Aremania Parahyangan adalah untuk menunjukkan eksistensi kami di sini, tapi di sisi lain diharapkan tidak terlalu mencolok (di Bandung) untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Memang, menjadi Aremania di Bandung (akhir-akhir ini) tidak seperti menjadi Aremania di Malang yang bebas mengenakan atribut kapanpun dan dimanapun tanpa khawatir. Berdasarkan pengalaman, beberapa kali ayas harus siap menebalkan telinga ketika mengenakan atribut AREMANIA di tempat umum, minimal menerima tatapan dari beberapa pasang mata yang aneh melihat ayas mengenakan soak Aremania atau memasang pin AREMA di tas. Dibutuhkan sebuah nyali untuk berani tampil di hadapan publik yang notabene pendukung setia Maung Bandung. Memang, tidak semua orang antipati terhadap Aremania, beberapa teman ayas (Bobotoh Persib) justru terang-terangan mendukung AREMA INDONESIA untuk kompetisi di kancah internasional dengan menyarankan pemain-pemain mana saja yang harus direkrut musim depan. Jadi tidak dapat disimpulkan bahwa semua Bobotoh Persib anti Aremania.

Masih segar dalam ingatan ayas bagaimana merasa begitu tegang saat bus rombongan Aremania Parahyangan yang menuju Jakarta nyaris dilempari batu di jalan tol oleh sekelompok pemuda. Dan suasana mencekam sepanjang perjalanan ngalup, tidak ingin bus kami menjadi sama nasibnya seperti rombongan lain yang kaca bus-nya pecah akibat ulah oknum tidak bertanggung jawab. Ternyata perjalanan Aremania kala itu adalah sebuah perjalanan yang mengandung ahayab dan menantang maut. Terbersit rasa sedih (ayas sempat menangis), marah, kecewa, dan pemberontakan dalam diri ayas, entah untuk siapa… Tapi hal itu semakin menguatkan jiwa ayas, tak lagi sekadar supporter fanatik, namun Aremania sudah menjadi spirit dan jati diri… Sebuah perjuangan tak kenal lelah, pantang menyerah, penuh loyalitas tanpa patas, dan bukti bahwa AREMA tidak kemana-mana, tapi dimana-mana!

Sampai sekarang ayas masih kadit itreng, sebab musabab apa yang menyebabkan Viking dan AREMANIA menjadi kurang kondusif. Ayas sama kadit itreng-nya, mengapa Aremania dan Bonek menjadi sangat berbenturan? Apakah karena Viking bersatu hati dengan Bonek lalu secara otomatis Viking menjadi bersebarangan dengan Aremania? Apakah Aremania merasa senasib dengan The Jak, lalu sekarang menyaingi duet Bonek-Viking?

Sampai kapan kita berkutat dengan hal-hal seperti itu, sehingga membuat semangat sepak bola menjadi terabaikan, yaitu sportivitas. Bukan saatnya kerusuhan antar supporter menjadi deadline surat-surat kabar dan berita-berita internet, sedangkan prestasi sepak bola nasional kita tidak beranjak naik dari papan bawah! Waktunya mencari solusi, bukan kambing hitam dan saling menyalahkan satu sama lain.

Cinta terhadap tim memang perlu, tapi jangan cinta buta! Kita harus punya mata untuk melihat, melihat mana yang baik dan mana yang buruk. Tidak ada manfaatnya membalas ejekan, cemoohan, dan lemparan dengan cara yang sama. Tidak akan ada akhirnya apabila permusuhan terus dikumandangkan. Menunjukkan cinta bukan dengan seperti itu, kawan! Berdamai bukan solusi konyol kok! Justru sangat logis. Berdamai bukanlah kalah! Memaafkan tidaklah merendahkan harga diri! Kita tunjukkan bahwa kita adalah supporter yang layak menjadi teladan. No rasis, tidak hanya menjadi slogan semata, mari kita buktikan!

Ataukah justru kita biarkan saja segala benturan-benturan antar supporter ini menjadi sebuah tradisi klasik yang ada sejak jaman dulu sampai entah kapan, sebagai sebuah warna tersendiri dalam meramaikan kancah sepak bola di negeri kita? Agar terkesan ‘nyeni’ dan tidak monoton! Meniru pendukung Inter Milan dan Barcelona di Italia. Oh, betapa tidak punya otak dan hati (maaf) kalau ada yang menyetujui hal ini!!!

Dengan menulis seperti ini, jangan diartikan ayas tidak loyal terhadap tim, jangan dimaknai ayas bukan Aremania sejati. Sebuah loyalitas supporter ditunjukkan dengan seberapa besar mendukung tim kebanggaanya untuk berprestasi lebih baik di kancah sepak bola nasional, bahkan internasional. Supporter sejati mampu menjaga nama baik dan kredibilitas supporter dan tim yang didukungnya. Menjadi supporter brutal dan rusuh justru itulah yang mencoreng semangat sepak bola itu sendiri, selain itu membuat orang lain merasa tidak nyaman dengan keberadaan supporter.

Bukannya ayas lupa dengan Aremania yang menjadi korban saat kerusuhan antar supporter atau Aremania yang menjadi korban kecelakaan saat mendukung Singo Edan bertanding (mari berdoa untuk Sam Hari Sutiyono). Kadit, ayas kadit lupa dengan perjuangan nawak-nawak hebat tersebut! Tapi selayaknya pengorbanan mereka kita hargai dengan tidak ada lagi nyawa-nyawa melayang dengan sia-sia. Sampai kapan kita menjadi supporter pasif, tanpa aksi mendiamkan hal-hal yang sebenarnya tidak kita terima secara nurani terjadi. Ayas yakin supporter yang membaca artikel ini adalah supporter yang berpendidikan dan bermoral, tentunya tidak ingin segala bentuk benturan dengan supporter lain merusak kerja keras yang telah ini kita bangun bersama selama, menjadi supporter terbaik. Sebarkan virus perdamaian!

Ayas juga yakin, supporter-supporter anarkis tersebut adalah oknum, yang bukan supporter sejati. Tentunya jauh lebih banyak yang masih memiliki nurani dan cinta kasih terhadap sesama. Kalau kita mau bersatu, saling mengingatkan satu sama lain, saling menghargai, menghormati, dan punya toleransi tinggi terhadap tim apapun yang didukung, tentunya perdamaian antara AREMANIA – Bonek, maupun Viking – The Jak bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan. Walaupun tidak semudah membalikkan telapak tangan, butuh usaha maksimal dan doa untuk mewujudkannya, tapi ini suatu hal yang realistis!

Beberapa perwakilan AREMANIA PARAHYANGAN menawarkan diri untuk melakukan mediasi dengan ‘Panglima’ Viking dalam waktu dekat. Pendekatan seperti ini diperlukan, mengingat keinginan kami untuk eksis di Bandung dengan aman, tanpa takut mendapat serangan dari pihak yang kurang senang dengan keberadaan kami. Semoga kebebasan berkespresi kami tidak terkungkung lagi. Bagaimanapun juga di kota ini kami mendapat kesempatan mencari sedikit ilmu dan sesuap nasi, disinilah kami mendapatkan rejeki, paling tidak kami harus menghargai lingkungan kami. Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Namun, kami ingin tetap menunjukkan jati diri kami sebagai bagian tak terpisahkan dari Ngalam, AREMANIA, AREMA, dan INDONESIA …

Ayas sampaikan terima kasih kepada redaksi ongisnade.net yang bersedia memuat curhat dan artikel-artikel ayas. Seperti inilah cara seorang AREMANITA berusaha menunjukkan eksistensi AREMANIA PARAHYANGAN kepada nawak-nawak di seluruh Indonesia. Kami akan tetap berjuang, apapun yang terjadi jiwa dan semangat AREMANIA akan bersemayam dalam benak kami, sampai nanti, sampai mati. Mohon dukungan dan saran-saran dari nawak-nawak (fb marlitha_giofenni@yahoo.co.id). Nuwus…

SALAM SATU JIWA. AREMANIA, never ending supporter forever after!

from : http://tribunaremania.com/sebuah-ironi-aremania-parahyangan/

Iklan