Surabaya (beritajatim.com) – Saya tidak tahu ini ide siapa pertama kali. Tapi saya yakin kehadiran bunga-bunga itu pada Minggu siang yang mendung di Surabaya melegakan kita semua. Para suporter Persebaya Surabaya yang menamakan diri Bonek (akronim dari Bondo Nekat) membagi-bagikan bunga kepada pengendara mobil plat N.

Pembagian bunga ini menjadi klimaks dari kekhawatiran semua pihak: bakal munculnya aksi balasan terhadap kekerasan yang dialami sejumlah kendaraan berplat nomor L di Malang. Beberapa hari ini masyarakat memang diresahkan oleh aksi anarkis sejumlah oknum Aremania yang berkonvoi merayakan gelar juara Arema. Selalu saja ada laporan tidak mengenakkan dari warga yang memiliki kendaraan plat L (Surabaya). Bahkan, mobil yang ditumpangi Gubernur Jawa Timur Soekarwo pun sempat jadi sasaran nakal Aremania.

Jika mengacu pada buruknya sejarah hubungan suporter kesebelasan Malang dan Surabaya, ‘perang plat nomor’ biasanya selalu bak pantun berbalas. Kekerasan di Malang, akan dibalas dengan kekerasan serupa di Surabaya. Begitu pula sebaliknya. Api dilawan dengan api. Akhirnya, dendam itu tak pernah berkesudahan.

Mulanya, semangat ‘api dilawan dengan api’ ini sempat muncul pula dari beberapa Bonek. Di beberapa grup Facebook penggemar Persebaya, ada seruan untuk membalas aksi tersebut dengan aksi kekerasan yang tak kalah garang di Surabaya. Jika itu betul-betul terjadi, bisa dipastikan kondisi dua kota besar di Jawa Timur akan mencekam.

Akhirnya, aksi balasan itu memang terjadi. Namun kali ini, sejumlah suporter Bonek membalasnya dengan aksi simpatik. Sebutlah ini aksi ‘Revenge With Flower’: membalas dengan bunga. Bunga di era 1970-an adalah lambang persahabatan yang sangat populer, sehingga generasi muda di masa itu disebut Generasi Bunga (Flower Generation). Mereka menentang perang.

Bagi kita yang terbiasa dengan stigma kekerasan yang melekat pada Bonek, Revenge With Flower tentu terasa aneh. Bagi kita yang terbiasa berpikir hitam-putih dalam memandang segala sesuatu, aksi itu terdengar asing.

Namun sesungguhnya, banyak hal yang bisa diharapkan dari aksi ini. Pertama, kita bisa berharap, aksi seperti ini menjadi upaya bagus untuk memecah rantai lingkaran setan dendam di antara kedua suporter. Selama ini aksi saling balas seperti tak berkesudahan, dan masyarakat luas selalu menjadi korban. Dengan tidak adanya aksi balasan kali ini, kita berharap ada lembaran baru yang dibuka untuk sbeuah rivalitas yang lebih bernalar.

Rivalitas dalam sepakbola memang mengasyikkan. Tanpa rivalitas dua kesebelasan dan pendukungnya, maka pertandingan sepakbola tak memiliki rohnya: memberikan kebanggaan. Namun rivalitas tak seharusnya berdarah-darah, karena di atas semua itu, di atas perbedaan warna kaos tim kebanggaan, ada merah putih dan garuda di dada kita.

Hal kedua yang bisa diharapkan adalah perubahan cara pandang. Sudah saatnya kita semua memandang segala sesuatu dengan lebih berwarna. Setiap kelompok suporter memiliki kelemahan dan kelebihan. Mereka bukan malaikat, namun mereka juga serta-merta bukan iblis. Jika sebuah komunitas adalah kumpulan banyak orang, maka sebagaimana halnya manusia, mereka terdiri dari banyak ragam.

Menjadi Bonek, menjadi Aremania, menjadi Tha Jakmania, menjadi Viking, atau menjadi bagian dari kelompok suporter apapun, bukanlah kejahatan. Perbuatan masing-masinglah yang menentukan kebaikan dan keburukan. Kebajikan berganjar pahala. Dan dalam setiap kejahatan, pertanggungjawaban individulah yang dikedepankan: jika anda mencuri, maka anda harus mempertanggungjawabkan di muka hukum, tak peduli apa warna baju Anda. Sederhana saja.

Diakui atau tidak, pola pandang terstigmatisasi tentang sebuah kelompok suporter membuat kita mudah lengah. Kita memancang kewaspadaan terus-menerus pada satu kelompok, dan memperlunak pada kelompok suporter yang lain. Padahal, setiap kelompok suporter selalu memiliki potensi untuk rusuh. Di Inggris, kerusuhan bisa diberantas dengan mewaspadai semua kelompok suporter, dan pihak yang memiliki otoritas melakukan dua pendekatan: represif terhadap pelaku kekerasan, dan mendukung setiap upaya kelompok suporter yang mencoba santun.

Ketiga yang bisa diharapkan dari aksi ‘Revenge With Flower’ Bonek, adalah efek bola salju. Sebagian besar pelaku aksi kekerasan yang ditangkap polisi masih berusia belasan tahun. Mereka membutuhkan kebanggaan dan identitas, dan mudah meniru perilaku rekan sekelompoknya. Kita berharap, perilaku ‘membalas dengan bunga’ akan ditiru oleh Bonek yang berusia belasan tahun ini, dan secara perlahan meninggalkan laku negatif.

Tentu saja, kita tak bisa berharap satu gerakan ‘Revenge With Flower’ akan mengubah laku negatif suporter secara keseluruhan dalam waktu pendek. Seperti saya katakan, suporter adalah kelompok yang beragam. Namun, laku positif seperti ini perlulah didukung. Tak ada salahnya aparat pemerintah dan keamanan memberikan apresiasi, selain menindak tegas setiap pelaku kekerasan. Media massa seharusnya memberikan dukungan pula. Tak hanya mengeksploitasi laku kekerasan suporter, media massa juga perlu berlaku adil dengan memberitakan setiap laku positif dan simpatik.

Bill Shankly, manajer legendaris Liverpool, pernah mengatakan: sepakbola melebihi hidup dan mati. Saya kira dia benar. Sepakbola melebihi hidup dan mati, selama dalam sepakbola ada penghargaan terhadap kemanusiaan.

Akhirul kata: mari kita menyanyikan kembali bait lagu ‘Satu Jiwa’ karya Power Metal, sebuah kelompok musik heavy metal Surabaya. Lagu ini tenar di awal 1990-an. Sebuah lagu yang bercerita tentang persahabatan: ‘Kau yang di sana, dan kau yang di sini… di manakah suaramu? Kau yang di sana dan kau yang di sini… jabat erat tanganmu!’

Salam satu jiwa satu nyali… wani untuk berdamai, jiwa perdamaian. [wir]

Iklan