Arema Indonesia menjadi yang terbaik di kasta tertinggi sepakbola Indonesia musim kompetisi 2009/10. Mulai gelar juara liga, pemain terbaik, MC terbaik, hingga Panpel terbaik diraih oleh Arema.

Namun dibalik gemuruh dan kegembiraan Aremania melepas dahaga gelar juara liga sejak era Galatama, ada kejadian memilukan yang menimpa Lucky Acub Zaenal, pendiri PS Arema waktu itu.

Dalam setiap pertandingan Arema, terutama di Stadion Kanjuruhan, Sam Ikul -sapaan akrabnya- meskipun mengalami gangguan pada indera penglihatannya namun selalu datang bersama isterinya Novi dan dua anaknya.

Pada laga Perang Bintang Arema vs ISL All Star hari Minggu kemarin, Sam Ikul “dipaksa” tidak duduk di kursi undangan sebagaimana biasanya karena disuruh pindah oleh panitia yang juga menjamu Menteri Andi Mallarangeng, dan Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid.

Setelah “diusir” dari kursi undangan, Lucky dan istrinya sempat duduk di undak-undakan di antara deretan kursi, bercampur dengan para suporter dan wartawan.

Hal ini sempat memicu rasa iba para wartawan yang langsung menawarinya duduk di kursi yang lebih layak. CEO PT Liga Indonesia Joko Driyono maupun Nugraha Besoes yang mengetahui hal itu kemudian membujuk agar Sam Ikul mau kembali duduk di kursi undangan. Namun akhirnya Sam Ikul menggandeng istrinya keluar meninggalkan stadion meskipun pertandingan baru berjalan beberapa menit.

Media officer Arema Indonesia, Sudarmaji, seperti dilansir Suara Merdeka mengatakan, pertandingan Perang Bintang semuanya ditangani oleh BLI. “Jadi manajemen Arema sendiri tidak tahu menahu masalah tersebut,”

“Saya hanya dapat free pass seperti biasanya dan saya pun duduk di kursi yang biasanya,” jelas Sam Ikul di rumahnya pada Minggu malam.

“Saya hanya orang biasa, bukan pejabat, bagi saya itu terlalu jauh. Hari ini memang harinya pejabat. Saya tidak apa-apa duduk di sini (kursi wartawan), yang penting semua Aremania bahagia,”

“Saya tidak butuh pengakuan atau apa pun, tapi jangan dipermalukan seperti itu. Orang ‘lupa’ masih lebih baik daripada mempermalukan,”

“Saya sudah beberapa kali diperlakukan seperti ini dan sudah cukup sampai di sini saja. Janganlah saya dan keluarga dipermalukan,”

“Sekarang saya merasakan bagaimana perasaan pahlawan dan pejuang yang tidak bisa mengikuti upacara kemerdekaan, saya bisa merasakan bagaimana perasaan almarhum ayah saya yang pernah marah besar karena tidak diundang ke upacara kemerdekaan,”

“Sudah cukup sampai di sini. Silahkan diartikan sendiri,”

“Saya tidak pernah ikut konvoi atau pesta-pesta yang lain. Saya hanya sekali bertemu teman-teman Aremania yang konvoi, itupun saat perjalanan lewat di depan Stasiun Kotabaru,”

“Mata saya memang buta, tetapi tidak dengan hati saya. Setiap datang ke Kanjuruhan saya selalu menghadirkan dan membuka hati saya, membaginya dengan semua Aremania,”

“Sejak pertama kali Arema memastikan juara di Pekanbaru, saya ingatkan kepada Aremania, sudahkah kalian sujud syukur?”

“Gelar juara ini bukan akhir, tetapi baru awal. Juara bisa juga berarti sebuah cobaan yang harus kita lalui,”

Pada Minggu malam yang telah larut itu, kapten Arema Indonesia, Pierre Njanka, datang ke rumah Sam Ikul untuk memberikan kaus Arema bernomor punggung 24 yang dipakai Njanka semalam satu musim ini.

Sebuah hadiah penuh makna dari seorang kapten yang ironisnya bukan pemain yang pertama kali mengangkat replika piala saat timnya juara di Pekanbaru.

Dan Sam Ikul pun, meski mengalami gangguan pada indera penglihatannya, tampak berkaca-kaca saat memeluk Njanka seraya berkata lirih, “Terima kasih Njanka, kamu adalah seorang juara,” (*)

Iklan