MALANG – Kesempatan untuk menggelar konvoi selama seminggu penuh, sejak 26 Mei hingga 2 Juni lalu, tampaknya belum memuaskan Aremania.
Terbukti kemarin, ribuan Aremania kembali turun ke jalan. Mereka menganggap, pasca Arema menerima Piala Presiden dan Piala Djarum ISL yang asli, bakal ada konvoi untuk mengarak dua piala tersebut.
Padahal manajemen Arema maupun korwil-korwil Aremania, sudah sepakat mengakhiri konvoi pada Rabu (2/6) lalu, saat Pesta Rakyat. Apalagi ketika itu, konvoi besar-besaran juga diikuti pemain dan ofisial Arema. Bahkan waktu itu, sudah ada imbauan agar Aremania sudah tidak lagi menggelar konvoi. Jika tetap ada konvoi, mereka meminta polisi untuk menindak tegas. Tampaknya imbauan itu hanya berlaku empat hari. Terbukti, kemarin kembali berlangsung konvoi.
Namun kali ini, polisi tidak lagi mau memberikan toleransi. Aksi konvoi liar – lantaran tidak terkoordinasi dan tidak berizin – dibubarkan. Pengendara sepeda motor yang terbukti melanggar, langsung ditilang. Mobil-mobil yang dianggap memakai atribut berlebihan, juga diperingatkan dan diminta mencopot atribut-atribut tersebut.
Sikap tegas polisi itu berlaku di seluruh wilayah Malang Raya. Bahkan pintu-pintu keluar dan masuk wilayah Kota Malang ditutup dan dibarikade. Tak heran jika Aremania dari luar Kota Malang, kesulitan masuk ke kota. Pun sebaliknya, Aremania dari luar kota, juga tidak bisa masuk.
Sementara di dalam kota sendiri, polisi langsung membubarkan kerumuman Aremania yang berada di beberapa titik pemusatan massa. Seperti di depan stasiun, depan stadion dan di beberapa lokasi lainnya.
Demikian pula dengan Aremania yang konvoi dari wilayah Polres Malang. Sebelum berkumpul dalam jumlah besar, mereka langsung dibubarkan. Meski polisi dari Polres Malang, hanya memberikan peringatan dan tidak sampai menindak.
‘’Kami membubarkan konvoi Aremania ini karena sudah tidak ada konvoi lagi. Mereka sebelumnya sudah diberi waktu selama sepekan konvoi. Masak masih kurang saja,’’ ungkap Kapolres Malang AKBP Drs Andhi Hartoyo, kepada Malang Post.
Kapolres juga mengaku, pembubaran konvoi tersebut, menindaklanjuti pengaduan masyarakat lewat SMS yang mengeluhkan tindakan oknum dengan kostum Aremania, mengganggu pengguna jalan lainnya. Karenanya, dia juga menginstruksikan seluruh jajaran Polres untuk membubarkan konvoi di daerah masing-masing.
’’Ada beberapa SMS yang masuk di HP saya. Isinya sama, meminta ada tindakan tegas dari pihak kepolisian terhadap Aremania yang melakukan konvoi. Pasalnya, masyarakat terutama pengguna jalan, merasa terganggu dengan tingkah laku oknum Aremania selama melakukan konvoi,’’ ujar Kapolres.
Instruksi Kapolres langsung ditindaklanjuti di lapangan. Seperti di wilayah Lawang dan Singorasi, kepolisian setempat membubarkan konvoi. Bahkan petugas gabungan diturunkan untuk menghalau konvoi yang akan masuk ke kota ataupun ke wilayah Kabupaten Malang di wilayah Karanglo.
Petugas juga merazia peserta konvoi yang membawa bendera yang diikatkan pada kayu, bambu atau besi. Karena disinyalir, alat-alat itulah yang biasa disalahgunakan untuk menganggu pengguna jalan lainnya.
’’Untuk atribut, kita tidak melakukan penyitaan. Hanya bendera yang diiatkan pada kayu atau besi, yang diamankan. Selama ini, alat itu terkadang dipakai untuk memukul,’’ kata Kabag Ops Polres Malang, Kompol Iman Rofik.
Ekstra ketatnya penghalauan yang dilakukan petugas, membuat peserta konvoi kalang-kabut. Aremania yang berada di Malang Utara, kesulitan untuk masuk wilayah Kota Malang. Begitu juga sebaliknya, arak-arakan motor dari arah Kota Malang, pun kesulitan untuk bisa menembus barisan petugas di Pos Lantas Karanglo.
Akibatnya, pertigaan Karanglo pun menjadi persimpangan dua arak-arakan konvoi. Menariknya pula, dalam konvoi yang dilarang tersebut, tidak sedikit yang menggunakan pikup atau pun truk untuk mengangkut peserta. Sementara akibat penghalauan, pun membuat arus kendaraan menjadi sedikit terganggu.
Hal yang sama terjadi di Kota Malang. Bahkan di beberapa titik, polisi membuat barikade yang menghadang peserta konvoi. Semuanya diperiksa surat-surat kelengkapan kendaraan.
Jika kedapatan melanggar peraturan lalu lintas, pengendara langsung ditilang. Sementara yang surat-suratnya lengkap dan memakai helm, dilepas setelah mereka diminta untuk tidak terlalu mengekspos atribut Aremania.
Kasat Samapta Polresta Malang, AKP Susanto mengaku, instruksi pembubaran konvoi langsung turun dari Kapolresta Malang. ’’Hari ini (kemarin, Red.) tidak ada izin konvoi yang masuk. Jadi konvoi liar harus ditertibkan,’’ imbuhnya.
Bahkan dari operasi tersebut, ada sekitar 70 motor milik Aremania yang terpaksa diamankan, lantaran tidak bisa menunjukkan surat-surat kendaraan, atau pengendaranya melanggar.
Hanya saja, meski terus dilakukan razia, masih banyak Aremania yang lolos dari razia. Mereka terus melakukan konvoi keliling kota. Namun agar tetap bisa leluasa konvoi, rutenya dialihkan ke arah Lawang.
Tak ayal konvoi itu membuat ruas jalan di sepanjang Jalan Tumenggung Suryo, Raden Intan hingga Panji Suroso sempat macet karena rombongan Aremania dari arah Tumenggung Suryo memenuhi ruas jalan bagian kanan.
Rudi, seorang Aremania mengaku iring-iringan konvoi ini akan berakhir di Lawang. ’’Saya bersama dua adik saya, ini akan ke Lawang,’’ kata Rudi ketika berhenti untuk membeli bensin di Pom Bensin Jalan Raden Intan Blimbing.
Bahkan sampai sore kemarin, di beberapa ruas jalan masih terlihat Aremania yang konvoi. Sekalipun dalam jumlah yang kecil dan lebih bersifat pribadi-pribadi. (sit/pit/agp/avi)

Iklan