Dikirim oleh Neni Puji
Bisa dibilang saya adalah Aremanita anyaran. Sejak kecil sampai SMA saya tidak mengenal sepak bola..Keluarga saya ga ada yang suka bola, Bapak saya lebih seneng begadang nonton wayang daripada sepak bola, pun adek laki-laki saya tak suka bola.. Walhasil saya gak kenal AREMA, saya cuma tahu AREMA adalah tim kebanggaan Malang, tim swasta, tim plat hitam, dan berprestasi. Itu saja sudah otomatis menimbulkan rasa bangga…

Semua berubah semenjak kuliah.. Berada di perantauan membuat kami cenderung senang berkumpul dengan rekan sedaerah.. Berasa di rumah :p.. Aktif di MAHAREMA, membuat saya berkumpul dengan orang-orang gila AREMA.. STAN buat saya lebih mirip Sekolah Sepak Bola, mahasiswa yang mayoritas laki-laki membuat sepak bola menjadi kegiatan yang dominan…Lambat laun saya jatuh cinta pada sepak bola dan AREMA tentunya.. Berada di kosan AREMANITA juga membuat saya mulai mengenal sedikit demi sedikit AREMA.. Meskipun kecintaan saya hanya ‘sebatas’ pada produk lokal, saya masih lebih memilih tidur daripada begadang melihat pertandingan sepak bola di belahan dunia lain :p..

Era keemasan Patricio Morales, hampir tidak pernah saya absen melihat pertandingan Arema di televisi.. Gini deh nasib anak rantau, cuma bisa jadi Aremania Elektronik.. Kegaduhan dan kehebohan kosan AREMANITA ga kalah brissssssik sama kosan cowok.. Nampaknya identitas AREMANIA sudah melekat di setiap orang Malang.. Apalagi di rantau.. AREMA dapat mempertemukan dan otomatis mengakrabkan orang-orang Malang yang awalnya tak saling kenal.. Kebanggaan membuncah.. Bukan hanya pada AREMA, kebanggaan saya justru lebih meletup-meletup pada AREMANIA..

Musim berikutnya AREMA mulai diterpa cobaan.. Dibawah asuhan Gusnul, optimisme saya terhadap AREMA mulai tererosi.. Kekalahan demi kekalahan membuat saya gigit jari walaupun tidak mengurangi kecintaan saya pada AREMA.. AREMA terancam degradasi.. Di ISL 2008/2009, transformasi dari Liga Indonesia, AREMA berkutat di papan bawah.. Apa yang terjadi pada AREMANIA? Kami masih tetap merapatkan barisan mendukung tim kesayangan kami.. Karena suporter sejati adalah sekelompok manusia yang mensupport tim kesayangannya, bagaimanapun keadaannya…

Cobaan yang lebih besar datang.. PT Bentoel Indonesia, yang mayoritas sahamnya diakuisisi oleh British American Tobacco melepas kepemilikannya terhadap AREMA.. Eksistensi AREMA sebagai klub swadana terancam.. Bahkan ada wacana menggabungkan PERSEMA , klub plat merah Kota Malang, dan AREMA menjadi Malang United.. Ga rela dengernya.. Namun AREMANIA tidak mengenal kata ‘menyerah’ dalam kamusnya.. AREMANIA kembali merapatkan barisan, menata kembali ‘rumah tangganya’ berupaya mempertahankan eksistensi AREMA.. Akhirnya dengan formasi ‘rumah tangga’ yang baru, AREMA kembali eksis.. Keterbatasan pendanaan membuat manajemen merekrut pemain muda berprestasi yang notabene harganya lebih murah.. Bahkan pemain asing yang gaungnya kurang begitu terdengar dibanding Legiun asing lainnya

Lalu apa kata masyarakat sepak bola Indonesia? Mereka mencibir.. Tidak ada rasa optimisme mereka pada AREMA dan prediksi-prediksi negatif pun mengalir.. Tapi kami tak bergeming.. Robert Alberts meramu punggawa-punggawa muda AREMA menjadi racikan yang tepat.. Karena sepak bola bukan permainan individu berskill selangit, tapi permainan tim.. Jargon ‘SATU JIWA’ diterapkan, skill individu yang tak begitu diperhitungkan sebelumnya, dikombinasikan dalam permainan tim yang dahsyat…

Perjalanan awal AREMA INDONESIA sangat mulus.. Kemenangan berturut-turut di kandang maupun tandang diraih.. Namun di seperempat jalan, AREMA kembali tersandung cobaan.. Tanpa kucuran Uang Rakyat, tanpa sponsor yang selama ini menjadi back up yang kuat, pendanaan AREMA sempat amburadul.. Di satu sisi kecintaan pemain AREMA kepada klub maupun AREMANIA tak perlu dipertanyakan.. Tapi di sisi lain profesionalisme dimana komitmen pembayaran hak mereka pun tak bisa diabaikan.. AREMA Indonesia terancam ditinggalkan pelatih dan pemain asing…….

Apa yang dilakukan AREMANIA?? Mereka membuat kegiatan dengan tajuk SAVE AREMA.. Mengumpulkan dana baik dari acara lelang maupun donasi.. Tidak main2, dana yang terkumpul mencapai puluhan juta.. Kenaikan harga tiket pun tidak menghalangi AREMANIA memenuhi Stadion Kanjuruhan maupun rombongan supporter yang menemani AREMA yang berlaga di kandang lawan..

Dengan kenaikan harga tiket tersebut, bukan saja tidak menghalangi AREMANIA menghadiri pertandingan AREMA, tapi membuat mereka semakin ‘menggila”!! Jumlah penonton malah semakin meningkat.. Mengetahui keadaan pendanaan yang ‘empot2an’ , membuat kecintaan AREMANIA yang tidak ingin kehilangan tim kesayangannya rela membeli tiket pertandingan yang mahal bahkan bela2in beli di calo yang pasang harga gila!!

Hal ini membuat saya bertanya2.. Apakah Warga Malang memiliki tingkat Kesejahteraan Diatas Rata-rata? Jawabannya TIDAK!!! Kesejahteraan warga Malang saya rasa sama saja dengan daerah lain.. Yang membedakan adalah LOYALITAS!!!

AREMANIA merelakan uangnya untuk membeli tiket pertandingan AREMA yang menjadi sponsor utama pendanaan AREMA.. AREMANIA tidak menempatkan pertandingan AREMA di kebutuhan sekunder alih-alih tersier, tapi pertandingan AREMA menduduki kasta KEBUTUHAN PRIMER bagi AREMANIA..

Maka ketika pendapat sampah soal AREMA anak emas PSSI, sewajarnya AREMANIA geram.. Perjalanan yang tertatih2, sempat terancam absen eksistensinya, keuangan yang sempat amburadul, sehingga AREMANIA dengan loyalitas tanpa batasnya bahu membahu menopang ‘nafas’ AREMA dengan susah payah, maka suatu logika yang BODOH jika kami menggunakan cara sogok menyogok untuk mendapatkan prestasi….(apalagi yang disogok PSSI yang secara tak kasat mata memperlakukan AREMA dengan TIDAK FAIR dari dulu.. gak usah pura-pura lupa bagaimana PSSI memperlakukan kami)

Gaungan miring tentang prestasi kami terus bergulir, tapi kami menyadari, memang HANYA ITU YANG BISA MEREKA LAKUKAN.. WHAT A POOR LOOSER YOU ARE.. Lihatlah kami, bukan hanya pada pertandingan ‘panas’, Kanjuruhan penuh dengan AREMANIA.. Bahkan melawan ‘tim yang dianggap kecil’ pun, tiket selalu sold out… Lihatlah kami, berupaya menghilangkan teriakan rasis di stadion, karna sudah bukan jamannya lagi kritis dengan teriakan rasis.. Lihatlah kami, kami tidak ingin merugikan tim kesayangan kami dengan bertindak anarkis.. Walaupun kadang masih ada segelintir oknum yang belum menyadari sepenuhnya arti loyalitas yang cerdas .. Arti fanatik berkode etik .. Air mata kami saat GELAR JUARA kami raih bukanlah suatu hal yang berlebihan.. Itulah air mata kebahagiaan dan kemenangan setelah melewati perjuangan yang panjang dan melelahkan….

Banyak cobaan sudah kami lewati bersama2… KAMI, TIDAK PEDULI OCEHAN SAMPAH KALIAN YANG RUPANYA MULAI PUTUS ASA… SEKERAS DAN SEKONYOL APAPUN KALIAN MENGOCEH…SEGENCAR APAPUN PROVOKASI KALIAN….

MAAF, KAMI JUARANYA!!!!!!

Salam Satu Jiwa dari AREMANITA KORWIL MAHAREMA!!!

(Tribunaremania.com)

Iklan