MALANGPost – Jalanan di Malang Raya benar-benar membiru oleh Aremania dalam rangkaian Pesta Rakyat Arema Indonesia, kemarin. Bahkan konvoi penghabisan kemarin, adalah konvoi hari ketujuh yang dilakukan Aremania.
Tak heran kalau konvoi Aremania panjangnya mencapai puluhan kilometer sehingga dari ujung hingga buntut kalau dimeniti mencapai 1,5 jam. Kemeriahan pesta rakyat Arema Indonesia itu dipungkasi atraksi kembang api yang dipersembahkan Malang Post.
Saking banyaknya Aremania yang meluber ke jalanan, sehingga terpaksa panitia memangkas rute konvoi. Awalnya, arak-arakan pemain direncanakan juga melewati Kota Batu. Namun karena adanya kemacetan, konvoi hanya mengitari etape pertama dan langsung kembali ke Kota Malang.
Konvoi itu dimulai sekitar pukul 09.00 pagi dan baru selesai pada pukul 16.00, itu dengan rute yang dipersingkat. Sesaat sebelum konvoi Aremania telah meluber di Kota Malang, terutama di sekitar Jalan Semeru Stadion Gajayana. Para pemain dinaikkan jeep terbuka, masing-masing jeep diisi dua pemain.
Namun khusus Robert ‘Meneer’ Alberts serta Pierre Njanka dan Noh Alam Shah dinaikan mobil Ranger. Sang meneer menaiki mobil bersama keluarganya, sedangkan Pierre dan Noh Alam Shah naik berdua. Konvoi berjalan sesuai rute yang direncanakan meski harus bersusah payah menembus kerumunan Aremania.
Sambutan dari masyarakat Kota Malang dan Kabupaten Malang begitu luar biasa. Mereka telah standby di pinggir jalan untuk menunggu rombongan pemain dan official Arema lewat. Di belakang konvoi pemain dan official, puluhan ribu Aremania berarak-arak dengan atribut kebesarannya.
‘’Kamu sampai mana?, Bululawang? Ini di Tugu buntutnya konvoi belum lewat-lewat juga,’’ ujar seorang jurnalis yang menelepon Malang Post dari Kota Malang.
Memang Malang Post sengaja mengikuti konvoi dan satu jeep dengan M Ridhuan dan Hermawan. Kedua pemain itu menaiki jeep ‘raksasa’ warna putih bersama official lainnya. Tak lupa pengawal dari Professional Guard Malang (PGM) turut mendampingi, satu jeep dikawal dua sampai tiga orang.
Pengawal diturunkan untuk mengantisipasi Aremania yang tiba-tiba naik ke Jeep yang dinaiki pemain. Rupanya, penempatan personil PGM cukup jitu karena sepanjang jalan, pemain Arema terus didekati Aremania. Bahkan dipastikan Aremania mengerubuti jeep ketika konvoi terhadang kemacetan.
‘’Wah ini luar biasa sekali, saya di Singapura enggak akan menemui seperti ini,’’ aku Ridhuan dengan dialek Melayu yang kental.
Sepanjang perjalanan, Ridhuan terus dielu-elukan Aremania dan Aremanita ikut konvoi maupun menunggu di pinggir jalan. Sedangkan nama Hermawan, baru dipanggil Aremania dan Aremanita ketika konvoi melewati Pakisaji. Maklum itu adalah tempat kelahiran defender Arema itu. ‘’Wah kalau camat bisa dipilih langsung, saya akan mencalonkan diri,” guraunya.
Menariknya, beberapa kali, orang-orang di pinggir jalan salah panggil terhadap Hermawan. Karena berada di samping Ridhuan, sejumlah orang mengira dia adalah Noh Alamshah. Meski dipanggil dengan nama Alam, Hermawan tetap membalas dengan melambaikan tangan. ’’Kalau ini Alamshah tapi Alam kubur,’’ gurau Hermawan disambut tawa official didalam jeep.
Keruwetan konvoi mulai terjadi ketika masuk di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, disana arak-arakan nyaris tak bisa bergerak. Hal serupa juga terjadi di Kebonagung Kecamatan Pakisaji, yang macet sekitar satu jam. Pemain memanfaatkan kemacetan itu dengan makan nasi bungkus.
‘’Bagi saya ini luar biasa meski macet, ini pengalaman yang tak pernah saya lupakan,’’ aku Esteban kepada Malang Post.
Sialnya, karena macet beberapa rombongan pemain sempat terpisah, Pierre Njanka dan Noh Alam Shah bisa sampai finish di Stasiun Kota Baru.
Namun kedua pemain itu bisa sampai di tempat finish konvoi di depan kantor redaksi Malang Post harus berganti kendaraan. Kedua naik sepeda motor milik Aremania untuk menembus macetnya konvoi.
Sedangkan rombongan pemain lainnya terpaksa berbelok ke arah mess pemain. Hal itu karena jalanan menuju stasiun sudah penuh sesak dan tak bisa dilewati lagi.
Malam harinya, pesta itu ditutup dengan kembang api yang sengaja diluncurkan dari kantor redaksi Malang Post. Tak kurang dari 15 menit, aneka warna kembang api itu mewarnai langit Kota Malang.
Aremania sendiri yang kebetulan masih terus konvoi dari berada di sekitar kantor redaksi Malang Post, langsung berhenti dan menyaksikan keindahan kembang api tersebut. (ary/avi)

Iklan