SURABAYA-Mantan pengurus Persebaya mengakui prestasi yang berhasil ditorehkan Arema Indonesia dalam kancah ISL 200/2010. Hal itu dibeberkan dalam dialog Ranah Publik yang digelar TVRI Surabaya secara langsung, kemarin malam. Tema dialog adalah Prestasi Arema Indonesia dengan mengundang Presiden Kehormatan Arema Indonesia Rendra Kresna.
Acara yang dibuka dengan lagu Queen berjudu We Are The Champion itu juga dihadiri Wakil Ketua Pengprov PSSI Jatim Eddy Yuwono Slamet yang juga mantan pengurus Persebaya. Serta pengamat bola Oerip Prihadi atau akrab disapa Suhu. Acara yang berlangsung selama satu jam itu dipandu presenter TVRI Iwan Tuwanakotta.
Eddy Yuwono yang mendapat kesempatan pertama kali berbicara langsung meminta gubernur memberikan bonus atas prestasi Arema. Dia mengakui Arema membangun tim dengan semangat dan karakter Arek Malang. Tak lupa Yuwono juga memberi acungan jempol untuk pelatih Arema Robert Alberts karena tidak menghilangkan karakter pemain.
“Keunggulan Arema adalah juga memiliki akademi, saya bangga bahwa tujuh calon pemain Timnas adalah pemain Arema. Saya hormat juga kepada yayasan yang menggerakkan stakeholder mengelola. Ini mengangkat nama Jawa Timur,“ bebernya.
Pengamat Sepakbola Oerip Prihadi menambahkan, Arema memiliki spririt luar biasa dari berbagai sisi. Mulai dari pemain, manajemen dan pelatih dan suporter. Prestasi dan keberadaan Arema merupakan fenomena yang dahsyat terlebih bukan klub plat merah.
“Ini adalah tim yang konsisten sejak awal, Malang mendapat kesempatan, awalnya kita ragukan namun justru menghasilkan prestasi. Pemain muda yang bukan siapa-siapa menjadi seseorang yang perlu kita perhitungkan. Mereka tak terlalu memikirkan bonus tapi bagaimana mereka menjadi tim hebat,“ beber Oerip.
Oerip memberi contoh, Arema berhasil menonjolkan pemain PON Juan Revi menjadi pilar di lini belakang. Sejak awal, Slamet Oerip Prihadi sudah yakin Arema memenuhi standar menjadi juara sejak awal.
Namun ada juga penelepon bernama Ipong asal Surabaya yang meragukan gelar juara yang berhasil direbut oleh Arema Indonesia. Dia melihat ada unsur rekayasa yang sudah didengungkan sejak pertengahan musim kompetisi.
“Dulu ada yang bilang arema juara padahal pertandingan belum berakhir, ada usnur rekayasa dan faktor tuan rumah (non teknis),” bebernya.
Rendra Kresna menegaskan, faktor rekayasa itu sangat jauh dari permainan Arema, buktinya saat pertandingan home Arema juga pernah kalah. Dan pada saat melawan Persija diakhir kompetisi, Arema tetap bermain prima dan professional.
“Arema bermain professional kita termasuk saat bermain bersama Persija, itu jawaban bahwa tidak ada rekayasa,” bebernya.
Acara itu berakhir manis dengan konklusi bahwa Arema bisa menjadi contoh sepakbola nasional. Contoh itu mulai dari segi pemain, pelatih hingga konsep menangani sepakbola. Termasuk suporter yang bisa benar-benar memberikan dukungan kepada klub.(ary/jon) (Malang-Post).

Iklan